Logo Bloomberg Technoz

Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi, sementara Rusia dan Ukraina saling melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi.

Terakhir kali harga minyak mencapai level tersebut adalah hampir lima bulan lalu, ketika lumpuhnya arus perdagangan minyak mentah dan bahan bakar global mendorong tercapainya kesepakatan yang rapuh dan berumur pendek.

Kesepakatan itu sempat membuka kembali Selat Hormuz untuk sementara waktu.

Pergerakan harga minyak Brent. (Bloomberg)

Kini, volume kargo yang melintasi jalur perairan strategis tersebut mendekati level sebelum perang, dengan pengiriman minyak mentah melampaui 100 juta barel pada pekan lalu.

Meski demikian, harga minyak tetap bertahan tinggi, sehingga Presiden AS Donald Trump memiliki semakin sedikit pilihan untuk menekan biaya energi menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Anggota parlemen AS pada Jumat mengajukan rancangan undang-undang untuk memblokir kesepakatan Trump dengan Moskow guna melepas beberapa ratus juta barel diesel. Rancangan tersebut mencerminkan penolakan luas terhadap langkah apa pun yang memungkinkan Rusia memperkuat kas untuk membiayai perangnya.

"Setelah sempat mereda, pasar minyak kini harus kembali memperhitungkan risiko, terutama menjelang akhir pekan," kata Rebecca Babin, pedagang senior energi di CIBC Private Wealth Group.

Kontrak berjangka diesel dan bensin juga menguat. Harga diesel ditutup pada US$4,90 per galon di New York. Kontrak kedua komoditas tersebut diperdagangkan pada level tertinggi sepanjang sejarah untuk periode yang sama dalam setahun.

Masih tersingkirnya diesel Rusia dari pasar global memaksa kilang-kilang di negara lain meningkatkan pengolahan minyak mentah untuk memenuhi permintaan.

Trump kembali menegaskan bahwa Moskow akan merealisasikan pelepasan pasokan diesel tersebut. Namun, serangan yang terus berlangsung, seperti serangan terhadap kilang minyak Ryazan di Rusia yang dilaporkan Reuters baru-baru ini, semakin menimbulkan keraguan mengenai apakah kesepakatan tersebut akan terlaksana sesuai janji.

Para analis mencermati perkembangan di kawasan Teluk Persia untuk mencari tanda-tanda bahwa konflik semakin memburuk. Trump tidak menutup kemungkinan menggunakan senjata yang dikenal sebagai "Mother of All Bombs" terhadap Iran setelah pemilihan pada 3 November, menurut wawancara dengan Newsmax.

CNN sebelumnya melaporkan pada pekan ini bahwa AS telah menyusun rencana serangan yang dapat mencakup penggunaan bom berkekuatan besar yang dikenal sebagai GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb.

"Konflik kemungkinan akan meningkat," tulis para analis Eurasia Group dalam sebuah catatan, seraya menaikkan probabilitas eskalasi menjadi 65% dari sebelumnya 35%. "Situasi kebuntuan yang ada saat ini tidak lagi berkelanjutan bagi AS."

AS juga berupaya menekan harga dengan menggunakan cadangan darurat dan melobi negara-negara lain agar melakukan hal serupa. Pada Jumat, AS menawarkan pelepasan hingga 17 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve).

Harga minyak mentah telah melonjak lebih dari 75% sepanjang tahun ini ketika perang di Timur Tengah dan konflik Rusia mengganggu pasokan.

Pasar fisik terus menunjukkan ketatnya pasokan, sementara produk hasil penyulingan seperti diesel mengalami kenaikan harga yang lebih tajam. Kontrak berjangka diesel di Eropa, misalnya, telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini.

Lonjakan harga yang besar pada Jumat menjadi pergerakan pertama dengan skala serupa dalam sepekan perdagangan yang bergerak dalam kisaran terbatas, meskipun berbagai pemberitaan mengindikasikan memburuknya kondisi ketahanan energi global.

Ketidaksesuaian antara harga kontrak berjangka dan lonjakan harga di pasar fisik membuat para pedagang khawatir akan salah mengambil posisi. Akibatnya, jumlah kontrak terbuka (open interest) pada minyak acuan global tersebut menyentuh level terendah sejak Maret 2025 pada awal bulan ini.

Menambah dinamika teknis pasar, harga Brent dalam beberapa sesi terakhir sebagian besar tertinggal dari kenaikan minyak acuan AS. Kondisi ini mempersempit selisih harga kedua minyak tersebut, seiring penurunan biaya pengiriman minyak mentah AS yang mendorong permintaan.

Menurut data Baltic Exchange, biaya pengiriman satu kargo minyak yang lazim dari Pantai Teluk AS ke Rotterdam turun sekitar 12% selama sepekan terakhir.

Penasihat perdagangan komoditas yang mengikuti tren (trend-following commodity trading advisers) serta faktor teknikal juga turut berkontribusi terhadap penguatan relatif harga Brent.

(bbn)

No more pages