Menurut dia, dampak asap karhutla tidak berhenti pada kesehatan fisik. Paparan tersebut juga berpotensi memengaruhi perkembangan kecerdasan dan kemampuan akademik anak.
Sejumlah penelitian yang mengikuti anak-anak terdampak karhutla menunjukkan adanya penurunan skor akademik yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan mereka beradaptasi di lingkungan kerja saat dewasa.
"Akibatnya, tingkat pendapatan dan kesejahteraan bisa menjadi lebih rendah pada saat dewasa," katanya.
Selain itu, Fifi menyoroti risiko gangguan kesehatan mental akibat paparan dan pengalaman bencana karhutla. Dampak tersebut dapat berupa trauma hingga gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) apabila tidak ditangani secara tepat.
Di sisi lain, Sekretaris Satgas Siaga Bencana IDAI, Dimas Dwi Saputro berharap adanya dukungan teknologi untuk menyediakan pusat aktivitas dengan udara bersih bagi anak-anak di wilayah terdampak asap karhutla.
"Ketika ada negara yang hadir, kami inginkan adalah ada suatu tempat yang benar-benar sentra untuk anak itu bisa beraktivitas bebas, meskipun ada kabut asap. Sentra-sentra itu yang perlu kita kembangkan sebenarnya," ujar Dimas.
Dia mengusulkan pembangunan ruang atau fasilitas tertutup dengan sistem penyaringan udara yang memadai agar anak-anak tetap bisa beraktivitas meskipun kualitas udara di luar ruangan memburuk.
"Misalnya, satu gedung olahraga, anak bisa bermain aktif di sana, kita bisa buat udaranya bersih. Nah, itu yang bila ada teknologi seperti itu, sangat kami harapkan untuk dibuat sentra-sentra seperti itu, agar anak tetap bisa berkembang, bermain, belajar, di tengah kepungan asap seperti ini, yang kita tidak tahu kapan berhentinya," kata Dimas.
Tips Pencegahan
Selain itu, Fifi juga membagikan sejumlah cara untuk mencegah asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masuk ke rumah.
"Di semua tempat dalam rumah kita harus mempunyai satu ruang bersih minimal, di mana di situ kita upayakan semua jendela dan pintu ditutup," ujar Fifi dalam konferensi pers mengenai dampak asap karhutla terhadap anak, Jumat (16/10).
Jika tersedia, keluarga juga dapat menggunakan alat pembersih udara portabel. Penggunaan AC perlu diatur agar tidak menarik udara dari luar ke dalam ruangan.
Sebaliknya, gunakan mode sirkulasi udara dalam ruangan (recirculation) jika tersedia. Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan asap di dalam rumah, seperti merokok, menyalakan lilin, menggunakan obat nyamuk semprot, serta memasak yang menghasilkan banyak asap.
"Kalau misalnya kabut asap atau indeks standar pencemar udara di atas 50, artinya anak tetap di dalam rumah," kata Fifi.
(dec/spt)



























