"Menyisihkan 5–10% pendapatan untuk tabungan secara konsisten sudah menjadi langkah positif. Jangan memaksakan tabungan hingga kebutuhan dasar justru dibiayai melalui utang," ujarnya.
Rizal juga mengingatkan Gen Z agar tidak terjebak utang konsumtif, terutama melalui layanan buy now, pay later (BNPL) atau beli sekarang bayar nanti dan pinjaman online.
Menurut dia, kemudahan memperoleh kredit bukan berarti kemampuan ekonomi meningkat karena utang justru menambah kewajiban pembayaran pada masa mendatang.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan tekanan keuangan masyarakat terjadi karena kenaikan harga kebutuhan pokok tidak diimbangi peningkatan pendapatan yang memadai.
"Yang pasti adalah kondisi keuangan masyarakat kita secara umum mengalami tekanan dari dua sisi. Sisi pertama adalah harga barang yang semakin mahal, termasuk kebutuhan pokok," kata Nailul.
Dia menyebut kenaikan median pendapatan pekerja di Indonesia hanya sekitar 4%. Kondisi ini semakin menekan daya beli, terutama bagi Gen Z yang bekerja di sektor jasa dan belum mengalami kenaikan gaji signifikan. Selain itu, terbatasnya lapangan kerja membuat lulusan baru harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan pekerjaan.
"Gen Z harus menunggu sekitar 7–9 bulan baru mendapatkan pekerjaan. Generasi sebelumnya 2–3 bulan sudah bisa mendapatkan pekerjaan," ujarnya.
Nailul mengatakan penggunaan pinjaman daring dan BNPL perlu dipertimbangkan secara matang, terutama bagi anak muda yang pendapatannya masih terbatas.
Menurut dia, layanan tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti membeli makanan, karena berisiko menambah beban keuangan.
"Sebenarnya tidak masalah asalkan pemakaiannya digunakan untuk hal produktif dan bijak. Misalkan untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan, itu boleh saja. Tapi jika harus belanja kebutuhan sehari-hari ataupun makanan, ini yang berbahaya dan tidak bijak," kata Nailul.
Karena itu, Gen Z perlu menjaga pengeluaran, membangun tabungan dan dana darurat secara bertahap, serta meningkatkan keterampilan untuk memperbesar peluang memperoleh pendapatan.
Namun, Rizal mengingatkan ketahanan finansial generasi muda juga membutuhkan dukungan penciptaan lapangan kerja berkualitas dan kebijakan yang menjaga daya beli masyarakat.
(dec/spt)





























