BNEF memperkirakan AS akan menambah rekor kapasitas energi bersih sebesar 89 gigawatt tahun ini dan melampaui angka tersebut pada tahun 2027.
Lonjakan ini terjadi meski para pengembang harus menghadapi tantangan berupa biaya pendanaan yang lebih mahal, hambatan perdagangan, serta ketidakpastian terkait biaya dan ketersediaan peralatan.
Pada saat yang sama, menurut BNEF, kapasitas pembangkit listrik tenaga gas baru sebesar 67,8 gigawatt berpotensi ditambah hingga tahun 2030. Dengan hanya 14,3 gigawatt pembangkit listrik tenaga gas yang dijadwalkan akan ditutup dalam periode tersebut, penambahan ini akan menghasilkan kenaikan bersih yang signifikan.
Pertumbuhan pesat kecerdasan buatan (AI) dan pusat data kini semakin memengaruhi proyeksi energi AS.
BNEF memperkirakan kapasitas terpasang pusat data akan mencapai 118 gigawatt pada tahun 2030—atau 52% lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi yang dibuat pada Desember lalu.
Kebutuhan daya rata-rata pusat data diperkirakan mencapai 120 gigawatt pada tahun 2035, atau sekitar lima kali lipat dari tingkat saat ini, dengan komputasi terkait AI menyumbang hampir setengahnya.
Sebagian besar pusat data baru akan ditenagai oleh sistem gas alam yang berlokasi langsung di area pusat data tersebut.
Meski AS merupakan pemasok bahan bakar fosil terbesar di dunia, tingginya permintaan akan membebani pasokan dalam negeri. BNEF memperkirakan industri ini akan beralih dari surplus produksi menjadi defisit paling cepat pada tahun 2028.
Namun, lonjakan ini juga memperbaiki prospek proyek-proyek energi bersih. BNEF menaikkan proyeksinya sebesar 15% hingga tahun 2036 untuk penambahan kapasitas tenaga angin darat (onshore wind), menjadi 99,7 gigawatt, sebagian didorong oleh permintaan pusat data.
Prospek teknologi baterai bahkan meningkat lebih jauh. BNEF kini memproyeksikan kapasitas penyimpanan sebesar 383 gigawatt akan terpasang hingga tahun 2036, atau 35% lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya pada awal tahun ini.
Insentif federal untuk teknologi penyimpanan tetap berlaku, meski dukungan untuk beberapa proyek energi terbarukan mulai berkurang.
Tenaga surya akan terus mendominasi pangsa terbesar pembangkit energi bersih baru. Para analis memperkirakan kapasitas sebesar 48,9 gigawatt akan terpasang pada tahun 2026 saja, seiring para pengembang melanjutkan proyek-proyek yang telah memenuhi syarat untuk mendapat insentif pajak yang akan segera berakhir.
Namun, perkiraan kapasitas tenaga surya skala utilitas untuk periode 2026 hingga 2036 telah direvisi turun sebesar 7,5%, menjadi 430 gigawatt, akibat tarif baru dan penghapusan bertahap kredit pajak.
Perusahaan-perusahaan teknologi turut mendanai sebagian besar ekspansi energi bersih. Menurut BNEF, kontrak pengadaan energi bersih oleh sektor korporasi yang diumumkan hingga Agustus telah mencapai lebih dari 15 gigawatt. Meta Platforms Inc dan Google (Alphabet Inc) menyumbang hampir tiga perempat dari total tersebut.
Meningkatnya kebutuhan listrik juga memicu kembali minat terhadap tenaga nuklir, meski pembangunan reaktor baru tetap mahal dan memakan waktu bertahun-tahun.
Peningkatan kapasitas yang lebih cepat dapat diperoleh dengan mengaktifkan kembali reaktor yang telah ditutup dan dengan meningkatkan produksi dari pembangkit yang sudah ada.
Proyek-proyek tersebut, ditambah dengan sejumlah pembangkit baru yang terbatas, diperkirakan akan menambah kapasitas nuklir sebesar 13,7 gigawatt hingga tahun 2036.
(bbn)





























