Logo Bloomberg Technoz

Tingkat penyimpanan bawah tanah yang relatif tinggi menunjukkan perusahaan-perusahaan gas besar milik negara—yang ditugaskan oleh Beijing untuk memprioritaskan keamanan pasokan—hampir mencapai target injeksi cadangan mereka.

Suhu yang lebih hangat akibat pola cuaca El Niño mungkin akan melemahkan permintaan gas China dalam beberapa bulan mendatang. Namun, tipisnya cadangan di Eropa telah memicu kekhawatiran mengenai persaingan dalam memperebutkan pasokan LNG. 

Para pembeli dari sektor industri yang sensitif terhadap harga cenderung menghindari kargo spot karna harga spot di Asia saat ini berada di level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.

Menurut OilChem, perusahaan konsultan komoditas asal China, permintaan selama musim dingin yang melemah akan berlanjut hingga tahun depan jika krisis di Timur Tengah membuat harga minyak tetap di atas US$100 per barel.

Dalam forum yang sama, analis perusahaan tersebut, Nicole Li mengungkap permintaan diperkirakan turun sekitar 4% dari level tahun sebelumnya, menjadi sekitar 190 miliar meter kubik.

Dia menambahkan bahwa konsumsi yang lesu—ditambah dengan premi harga di pasar luar negeri—berpotensi mendorong pembeli asal China menjual kembali kargo LNG yang telah dikontrak ke pasar internasional dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini berpotensi mengurangi persaingan dengan Eropa.

"China telah mengamankan sumber daya gas yang melimpah hingga tahun 2030, yang menempatkan negara ini di posisi yang lebih fleksibel untuk menyediakan likuiditas bagi dunia," kata Zhou Shuhui, kepala ahli China Petroleum Planning and Engineering Institute, dalam acara yang sama pada Kamis.

(bbn)

No more pages