Logo Bloomberg Technoz

Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham infrastruktur menjadi pemberat IHSG dengan melemah mencapai 12,9%, 12,2% dan 12,1%.

10 saham laggards pada perdagangan Jumat (16/10/2026) berdasarkan data Bloomberg:

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membebani 77,86 poin
  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membebani 56,29 poin
  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membebani 27,26 poin
  4. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) membebani 24,89 poin
  5. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membebani 24,08 poin
  6. PT Astra International Tbk (ASII) membebani 18,75 poin
  7. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membebani 18,12 poin
  8. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membebani 13,74 poin
  9. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membebani 12,69 poin
  10. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) membebani 12,32 poin

Pelemahan Indeks Komposit sedari pagi yang dibuka melemah hingga mengalami Trading Halt di awal perdagangan serta terus melanjuti pelemahannya hingga penutupan Sesi I, melansir Panin Sekuritas.

Penurunan signifikan IHSG terjadi seiring dengan announcement MSCI sedang mempertimbangkan untuk menurunkan Indonesia menuju Standalone Market, 2 tingkat di bawah Emerging Market karena membutuhkan bukti perbaikan dan penerapan kebijakan, dibanding hanya sekedar regulasi. 

Patut dicermati, feedback akan ditutup pada 30 April 2027 dengan keputusan di 30 Juni 2027. 

MSCI memulai konsultasi atas proposal untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, menurut pernyataan penyedia indeks tersebut.

Konsultasi ini dilakukan setelah MSCI sejumlah pelaku pasar menyampaikan kekhawatiran terhadap pasar saham Indonesia, termasuk kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.

Hingga saat ini, para pelaku pasar tersebut belum melihat kemajuan yang konsisten dan memadai di pasar saham Indonesia, menurut pernyataan MSCI.

Kendatipun reformasi telah diumumkan, “Kekhawatiran signifikan masih ada terkait disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang terus berlanjut dan tidak adanya bukti penegakan aturan yang berarti,” papar pengumuman tersebut.

Selain itu, investor turut mencermati risiko nilai tukar rupiah yang bergerak cukup volatile, juga mempertimbangkan keputusan suku bunga Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pekan depan, di mana suku bunga diperkirakan akan ditahan stabil di 5,75% (dari yang sebelumnya: 5,75%).

(fad)

No more pages