Masyarakat perlu memeriksa informasi kualitas udara secara berkala, bukan hanya mengandalkan bau asap atau kondisi langit. Kualitas udara dapat berubah mengikuti pergerakan asap, arah angin, dan kondisi atmosfer.
BMKG menyediakan layanan pemantauan konsentrasi PM2.5 serta prediksi sebaran partikulat kabut asap hingga tiga hari ke depan. Masyarakat dapat mengakses informasi tersebut melalui situs resmi.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup menyediakan informasi kualitas udara melalui sistem ISPUNET yang diperbarui secara berkala setiap 30 menit. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui kondisi udara di wilayah masing-masing.
2. Kurangi aktivitas di luar ruangan
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi kegiatan di luar rumah, terutama aktivitas fisik berat yang meningkatkan frekuensi pernapasan.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan riwayat asma atau penyakit paru perlu mendapat perhatian khusus. Jika memungkinkan, kegiatan belajar, bermain, dan berolahraga dilakukan di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih.
3. Kurangi asap yang masuk ke dalam rumah
Warga dapat menutup pintu dan jendela ketika udara di luar tercemar asap. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.
Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi ventilasi dan memastikan ruangan tidak memiliki sumber polusi lain. Apabila rumah sulit terlindung dari paparan asap, warga dapat mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik.
4. Gunakan masker yang sesuai saat harus keluar
Kemenkes mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk dan aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari.
Respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus. Efektivitas perlindungan bergantung pada jenis masker dan kesesuaian pemasangannya.
5. Kenali gejala gangguan kesehatan
Masyarakat perlu mewaspadai batuk, iritasi, dan gangguan pernapasan setelah terpapar asap. Jika mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Aji mengingatkan orang tua agar memperhatikan kondisi anak, terutama jika mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu dan minum.
"Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan," kata Aji.
Dia juga mengingatkan bahwa penggunaan nebulizer harus berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri.
6. Perhatikan kesehatan mental selama kabut asap
Kabut asap berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memicu stres dan kecemasan karena aktivitas sosial, pendidikan, dan pekerjaan terganggu.
Aji menyarankan masyarakat menjaga rutinitas sehari-hari dan memastikan anak tetap dapat beraktivitas di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan perilaku, gangguan tidur, dan perubahan pola makan anak.
Jika keluhan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu keseharian, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
(dec)






























