Penyebaran asap di atmosfer turut dipengaruhi kondisi cuaca, terutama arah dan kecepatan angin. Angin dapat membawa asap dari lokasi kebakaran menuju wilayah lain yang jaraknya cukup jauh. Sementara itu, suhu, kelembapan, dan kondisi atmosfer juga dapat memengaruhi pergerakan serta keberadaan asap di udara.
Pemantauan melalui satelit menjadi salah satu instrumen untuk mengamati pola sebaran asap dalam wilayah yang luas. Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pendukung pemantauan karhutla dan evaluasi kondisi lingkungan.
"Meski demikian, citra sebaran asap perlu dibaca bersama data titik panas serta pengukuran kualitas udara untuk mengetahui tingkat paparan polutan di suatu wilayah," demikian BMKG.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan imbauan dari instansi terkait. Paparan partikel halus dalam asap dapat mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau gangguan jantung.
Citra sebaran asap BMKG merupakan hasil analisis menggunakan metode Red Green Blue (RGB) yang dipadukan dengan informasi arah dan kecepatan angin pada lapisan atmosfer 1.000 milibar serta data titik panas atau hotspot. Dalam citra tersebut, wilayah yang terindikasi sebagai sebaran asap ditandai dengan poligon berwarna merah.
(dec)






























