Salah satu pertanyaan utama bagi pembuat kebijakan adalah apakah guncangan harga energi mulai merembet ke harga barang dan jasa lainnya. Laporan IHP menunjukkan harga energi naik 10,8% pada September, sementara harga jasa transportasi dan pergudangan meningkat 3,4%, kenaikan terbesar sejak April. Harga makanan naik 1,2%.
“Lonjakan harga transportasi berdampak pada setiap barang dalam perekonomian. Pasalnya, bahan baku untuk manufaktur harus diangkut ke pabrik, sementara barang pada setiap tahap produksi dipindahkan dari produsen ke pedagang grosir hingga pengecer menggunakan truk, kereta api, atau moda transportasi lainnya,” kata Carl Weinberg, kepala ekonom di High Frequency Economics, dalam sebuah catatan. “Inilah cara kenaikan harga energi ‘merembet’ ke harga barang inti.”
Faktor Pendorong Lain
Namun, ada pula faktor lain yang mendorong kenaikan harga produsen melampaui perkiraan. Data menunjukkan margin jasa perdagangan grosir dan eceran melonjak 1,4%, kenaikan terbesar sejak April. Margin tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai sejauh mana perusahaan menyerap biaya terkait tarif atau meneruskannya kepada konsumen.
Meskipun Mahkamah Agung AS membatalkan banyak tarif yang diberlakukan Donald Trump pada awal tahun ini, pemerintahannya menggunakan kewenangan lain untuk mengenakan pungutan terhadap barang impor. Perang dagang dengan Kanada juga semakin memanas setelah perundingan kedua negara terhenti pada Agustus.
Sejumlah komponen PPI yang menjadi perhatian khusus The Fed karena turut diperhitungkan dalam indikator inflasi pilihan bank sentral tersebut, yakni indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures atau PCE), menunjukkan hasil yang beragam. Indeks harga tiket pesawat melonjak 5% dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi berbagai kategori layanan kesehatan mencatat kenaikan yang relatif rendah.
Sejumlah ekonom sedikit menaikkan perkiraan mereka untuk deflator PCE inti setelah laporan tersebut dirilis. Mereka memperkirakan indikator itu akan naik 0,3% atau 0,4%. Biro Analisis Ekonomi AS dijadwalkan merilis data harga PCE September, beserta data pendapatan dan belanja, pada 29 Oktober.
Data Kamis juga menunjukkan sedikit perlambatan pada sejumlah kategori yang berkaitan dengan pembangunan pusat data. Biaya komponen dan aksesori elektronik turun 0,3% pada bulan lalu, harga komputer dan peralatan komputer naik tipis 0,1%, sementara indeks biaya konstruksi secara lebih luas relatif tidak berubah.
Sementara itu, laporan terpisah yang dirilis pada Kamis menunjukkan penjualan ritel AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada September. Kenaikan pengeluaran di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) menutupi pola belanja yang beragam di sejumlah peritel lainnya.
The Fed New York juga melaporkan bahwa aktivitas manufaktur di negara bagian tersebut tumbuh paling kuat dalam hampir lima tahun, disertai peningkatan signifikan pada pesanan baru dan pengiriman barang. Indeks kondisi bisnis umum bank tersebut naik 17,9 poin menjadi 25,5 pada Oktober, melampaui seluruh perkiraan ekonom dalam survei Bloomberg.
Menurut laporan The Fed New York, tekanan harga juga diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Indikator ekspektasi harga yang harus dibayar dalam enam bulan ke depan naik ke level tertinggi sejak 2022.
(bbn)






























