Kenaikan utang luar negeri ini didorong sektor publik, dengan bertambahnya utang luar negeri pemerintah sebesar US$7,01 miliar, menjadi US$220,86 miliar.
Sementara, utang luar negeri Bank Indonesia melonjak US$18,96 miliar menjadi US$42,85 miliar. Sebaliknya utang luar negeri swasta justru turun US$1,53 miliar menjadi US$195,56 miliar.
Di sisi pemerintah, kenaikan utang ini ditopang oleh naiknya kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) internasional. Posisi SBN internasional tercatat meningkat US$11,58 miliar atau 13,5% secara tahunan, jadi US$97,32 miliar. Sebaliknya, SBN domestik yang dimiliki asing justru terpangkas US$6,79 miliar atau 11,7% menjadi US$51,16 miliar.
Pelaku pasar mencermati arah fiskal dengan membesarnya utang tersebut. Meskipun defisit masih di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan rasio utang terhadap PDB masih berada di kisaran 40% PDB, tetapi rasio penerimaan negara terhadap pembayaran utang (baik bunga maupun pokok) sudah sebesar 47%.
Bahkan, Kemenkeu mencatat hingga Agustus 2026, pembayaran bunga utang telah mencapai Rp394,1 triliun. Pada saat yang sama, cadangan devisa terpangkas menjadi US$146,5 miliar, turun 2,8% dari periode sama tahun lalu US$150,7 miliar.
Di sisi lain, rasio utang jangka pendek berdasarkan sisa jatuh tempo terhadap cadangan devisa naik dari 55,82% kuartal I-2026 jadi 72,77% di kuartal II-2026. Konsekuensinya, semakin besar penerimaan yang dialokasikan untuk membayar bunga dan memenuhi kewajiban utang, semakin terbatas pula fleksibilitas pemerintah dalam merespons guncangan ekonomi.
Ruang untuk memperbesar belanja produktif, memperkuat perlindungan sosial, atau bahkan memberikan stimulus di saat daya beli melemah pun berpotensi kian menyempit.
Mata Uang Asia
Sentimen domestik memperberat laju penguatan rupiah. Berbanding terbalik dengan sebagian mata uang kawasan yang berhasil defensif.
Yen Jepang, misalnya, berhasil menguat dengan penopang dari pasar surat utang domestiknya. Disusul dolar Singapura, rupee India, baht Thailand, yuan offshore dan ringgit. Sebaliknya, rupiah melemah bersama dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan peso Filipina.
Pasar valuta Asia juga terbebani oleh ketidakpastian geopolitik yang mengerek harga minyak ke atas US$105/barel. Di samping itu, data inflasi AS yang meninggi juga turut menambah sentimen risk-off investor.
Data inflasi AS yang 3,7% secara tahunan pada September membuat ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) naik. Probabilitas kenaikan FFR jadi 4-4,25% dalam rpaat Oktober yang dihimpun Fedwatch meningkat jadi 27,1% hari ini, dari sebelumnya 22,5%.
(dsp/aji)




























