Kim Gyubeom, peneliti madya di Institute for National Security Strategy, menulis dalam laporan terbarunya bahwa defisit perdagangan Korut yang besar dengan China mungkin menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan untuk melanjutkan pengerjaan jembatan tersebut. Pyongyang kemungkinan memandang jembatan yang lama terbengkalai itu sebagai “semacam alat tawar-menawar”. Pemulihan ekonomi Korea Utara belakangan ini juga memberi kepercayaan diri tambahan kepada rezim tersebut, tambahnya.
Volume perdagangan antara Pyongyang dan Beijing turun tajam setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperketat sanksi terhadap Korea Utara pada 2017 terkait program senjata terlarang negara itu, menyusul uji coba nuklir. Perdagangan kedua negara kembali merosot setelah Korut menutup perbatasannya selama pandemi.
Aktivitas perdagangan antara kedua negara tetangga itu mulai meningkat secara bertahap pada 2022, ketika Korut kembali membuka perbatasannya, dan pada 2025 telah pulih ke tingkat sebelum pandemi. Namun, meskipun perdagangan dua arah China dan Korea Utara diperkirakan mencapai level tertinggi sejak penerapan sanksi tersebut, nilai perdagangan kedua negara masih timpang.
(bbn)






























