Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan tercatat melibatkan 22,43 miliar saham, dengan nilai perdagangan mencapai Rp8,57 triliun. Adapun frekuensi yang terjadi sebesar 1,09 juta kali.

Keseluruhan sektor saham membukukan pelemahan. Paling dalam adalah sektor energi yang ambruk mencapai 3,71%. Kemudian saham barang baku dan saham konsumen non-primer yang melemah 3,39%, dan 3,03%.

IHSG dan bursa saham Benua Kuning terjerembab senada dengan yang terjadi Amerika Serikat (AS). Dini hari tadi waktu Indonesia, indeks Nasdaq Composite turun 1,88%, S&P 500 jatuh 1,11%, dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) minus 0,1%.

Koreksi disebabkan rilis data inflasi AS, yang di atas ekspektasi. US Bureau of Labor Statistics melaporkan, inflasi di Negeri Adikuasa untuk periode September ada di 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy). Lebih tinggi ketimbang Agustus yang sebesar 3,4% yoy dan ekspektasi pasar dengan perkiraan 3,6% yoy.

Secara bulanan (month-to-month/mtm). inflasi September ada di 0,6%. Ini menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Adapun inflasi inti (core) secara tahunan adalah 2,6%. Lebih tinggi dari posisi Agustus yang sebesar 2,4% yoy dan konsensus pasar dengan proyeksi 2,5%.

Yield US Treasury Note bertenor 2 tahun, yang paling sensitif dengan ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter, naik 1,5 basis poin (bps) menjadi 4,81%.

“Para pelaku pasar di bursa kontrak berjangka (futures) memperhitungkan adanya peluang sebesar 37% Federal Reserve akan menaikkan suku bunga bulan ini, lebih besar dari 22% peluang sebelumnya,” tulis riset Phillip Sekuritas Indonesia.

(fad/aji)

No more pages