Reza Diofanda, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, IHSG telah menembus neckline pola head and shoulders di sekitar level 6.000. Penembusan tersebut mengindikasikan risiko pelemahan lanjutan apabila indeks belum mampu kembali ke atas area tersebut.
“Secara teknikal, IHSG telah menembus level psikologis 6.000, sementara pola Rising Wedge dan Head and Shoulders serta MACD yang masih negatif mengindikasikan tekanan bearish. Fokus berikutnya adalah mempertahankan support 5.850–5.900; jika zona ini ditembus, risiko pelemahan lanjutan meningkat,” kata Reza dalam risetnya.
Dengan IHSG yang telah bergerak di bawah area support tersebut, perhatian pasar beralih ke level teknikal berikutnya. Pada grafik analisis, indeks berpotensi menguji area 5.745 sebelum bergerak menuju kisaran 5.700 apabila tekanan jual berlanjut.
Risiko pelemahan juga tercermin dari indikator moving average convergence divergence (MACD) yang masih berada di zona negatif. Kondisi ini mengindikasikan momentum bearish belum mereda.
Selain itu, grafik menandai pola head and shoulders dengan garis neckline di sekitar level 6.000. Penembusan garis tersebut ke bawah menjadi sinyal teknikal yang memperkuat risiko koreksi lanjutan.
Apabila indeks kembali melemah hingga menembus area 5.745, level Fibonacci 78,6% di sekitar 5.616 menjadi area teknikal berikutnya yang perlu dicermati. Sebaliknya, pemulihan menuju 6.000 menjadi penting untuk meredakan tekanan jual.
Faktor Fundamental
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyebut, pasar menyoroti Laporan dari Bureau of Labor Statistics Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) utama AS melesat 0,6% secara bulanan (month–to–month/mtm) dan 3,7% secara tahunan (year–on–year/yoy) pada September, dipicu oleh lonjakan harga bensin sebesar 9,1% mtm serta kenaikan energi secara keseluruhan.
“Rilis inflasi yang lebih panas dari proyeksi konsensus ini dengan cepat membalikkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed,” papar Mirae Asset Sekuritas, Kamis pagi hari ini.
Adapun probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat mencapai 32,7% menurut data CME FedWatch tools. Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi, di mana US 2-Year Bond Yield saat ini menguat 0,27% di level 4,806%.
Kondisi pasar global semakin kompleks akibat dinamika pasar komoditas dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut. Harga minyak mentah Brent menembus di atas US$106 per barel dan WTI menguat 1,07% melangkahi US$95,17 per barel menyusul eskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menargetkan fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran.
Serupa, BRI Danareksa Sekuritas menegaskan, hal ini cenderung negatif untuk IHSG karena inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat memperkuat ekspektasi suku bunga The Fed bertahan tinggi.
“Risiko penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury berpotensi menekan rupiah serta arus dana asing ke pasar saham Indonesia,” terang BRI Danareksa Sekuritas dalam catatan terbarunya.
Investor juga gelisah terhadap pelemahan rupiah hari ini yang pagi ini menyentuh level Rp17.956/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, yang terus menerus kembali mendekati level Rp18.000/US$.
Rupiah terbebani sentimen gejolak pasar yang enggan mereda membuat mata uang di pasar Asia melemah hingga rupiah menjadi yang terlemah ke-tiga di Asia pagi-siang hari ini, tersengat sentimen kehati-hatian akan risiko yang terus meluas nyaring di pasar global.
Eskalasi konflik yang terjadi membuat pasar global menjadi lebih berhati–hati terhadap aset berisiko. Jika perang ini semakin menyebabkan harga minyak dunia melonjak tinggi dalam jangka panjang, maka risiko inflasi bisa meningkat karena biaya impor energi menjadi lebih mahal.
Apalagi Indonesia tercatat menjadi salah negara pengimpor minyak mentah dan mengandalkan 25% pasokannya dari Timur Tengah yang sedang berkonflik.
(dhf)






























