“Pertamina Patra Niaga terus mengoptimalkan distribusi BBM di Bali melalui penguatan armada mobil tangki, dukungan personel lintas daerah, operasional terminal selama 24 jam, serta optimalisasi pasokan melalui kapal yang telah bersandar,” ujar Kitty dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).
Kitty menambahkan, selain penambahan armada dan personel, pengerjaan distribusi BBM dari Fuel Terminal (FT) Sanggaran dan Integrated Terminal (IT) Manggis kini difungsikan penuh selama 24 jam nonstop, yang turut didukung oleh masuknya pasokan BBM dari kapal pengangkut yang telah bersandar.
Guna menampung dan mempercepat distribusi dari armada tangki yang dikerahkan, sebanyak 66 SPBU di area Denpasar dan Badung juga difungsikan selama 24 jam.
“Hal ini dilakukan untuk memberikan fleksibilitas waktu bagi masyarakat sekaligus memecah kepadatan antrean pada jam-jam sibuk,” tambahnya.
Meskipun memaksimalkan jam kerja dan jumlah armada, Pertamina menegaskan tetap mengedepankan standar keselamatan kerja (fit to work) serta rotasi kerja bagi 465 awak armada untuk mencegah kelelahan berlebih saat melayani jalur distribusi.
“Masyarakat diimbau untuk memantau pembaruan informasi lokasi SPBU terdekat melalui akun Instagram resmi @pertaminabali sebelum melakukan pengisian BBM,” ungkapnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan kendala teknis bongkar muat kapal tanker serta tingginya konsumsi BBM jenis Pertalite menjadi pemicu utama krisis pasokan di Bali.
Simon membeberkan salah satu armada kapal tanker pengangkut BBM mengalami kendala sistem penjangkaran saat hendak melakukan proses bongkar muat di pelabuhan. Kendala teknis ini berdampak pada keterlambatan jadwal distribusi yang sangat signifikan.
"Salah satu penyebab utama adalah salah satu kapal ketika kemarin pada saat untuk discharge kargo itu mengalami kesulitan di anchor, jangkarnya," ungkap Simon usai menggelar pertemuan dengan Gubernur Bali, Wayan Koster di Denpasar, dikutip dari akun Instagram resmi Koster @kosterupdate, Rabu (14/10/2026).
Proses bongkar muat BBM yang mulanya dijadwalkan selesai pada pukul 06.30 WITA bergeser hingga pukul 22.00 WITA.
Keterlambatan hingga belasan jam tersebut secara otomatis mengganggu rantai pasok ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Bali.
Di samping persoalan teknis kapal tanker, Pertamina memetakan faktor internal lain berupa lonjakan permintaan masyarakat terhadap BBM bersubsidi.
Simon menilai ketimpangan harga yang cukup lebar atau disparitas harga antara BBM nonsubsidi dan subsidi mendorong peralihan pola konsumsi masyarakat secara mendadak ke BBM jenis Pertalite.
"Salah satu juga karena terutama untuk Pertalite, itu kan yang subsidi. Kalau memang kita melihat disparitas harga nonsubsidi dengan subsidi kan memang cukup jauh. Jadi, ada porsi peningkatan penggunaan BBM bersubsidi," tutur dia.
Sebagai langkah penanganan cepat, Pertamina telah menyiapkan skema penyaluran puluhan juta liter BBM yang diproyeksikan sanggup mengamankan stok energi di Pulau Dewata hingga dua pekan ke depan.
Penyaluran pasokan BBM tersebut mulai dilakukan secara bertahap sejak Rabu (14/10/2026) dan berlanjut hingga Sabtu (17/10/2026).
Guna mempercepat pemulihan pasokan di tingkat pengecer, Pertamina menginstruksikan operasional 24 jam penuh bagi 92 SPBU yang tersebar di wilayah Denpasar dan Badung. Kebijakan operasional nonstop ini juga diterapkan pada dua terminal BBM vital, yakni Depo Manggis dan Depo Sanggaran.
(smr/wdh)



























