Logo Bloomberg Technoz

Kali ini, kabar dari Amerika Serikat (AS) jadi sentimen negatif bagi harga emas. US Bureau of Labor Statistics melaporkan, inflasi di Negeri Adikuasa untuk periode September ada di 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy). Lebih tinggi ketimbang Agustus yang sebesar 3,4% yoy dan ekspektasi pasar dengan perkiraan 3,6% yoy.

Secara bulanan (month-to-month/mtm). inflasi September ada di 0,6%. Ini menjadi yang tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Adapun inflasi inti (core) secara tahunan adalah 2,6%. Lebih tinggi dari posisi Agustus yang sebesar 2,4% yoy dan konsensus pasar dengan proyeksi 2,5%.

Perkembangan ini membuat pasar menjadi gamang. Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve pun ikut terkerek.

Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat bulan ini mencapai 31,8%. Jauh lebih tinggi ketimbang posisi kemarin di 22,1%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

“Data inflasi jelas mengerek ekspektasi kenaikan suku bunga, dan menjadi risiko bagi emas. Mungkin saja harga bisa turun ke bawah US$ 3.900/troy ons,” tegas Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seperti diberitakan Bloomberg News.

(aji)

No more pages