Adapun inflasi inti (core) secara tahunan adalah 2,6%. Lebih tinggi dari posisi Agustus yang sebesar 2,4% yoy dan konsensus pasar dengan proyeksi 2,5%.
Perkembangan ini membuat pasar menjadi gamang. Kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve pun ikut terkerek.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4,25% dalam rapat bulan ini mencapai 31,8%. Jauh lebih tinggi ketimbang posisi kemarin di 22,1%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
“Data inflasi jelas mengerek ekspektasi kenaikan suku bunga dan menjadi risiko bagi emas. Mungkin saja harga bisa turun ke bawah US$ 3.900/troy ons,” tegas Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seperti diberitakan Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Kamis (15/10/2026)? Apakah akan terjadi koreksi empat hari beruntun?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 39. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 berada di 67. Menghuni area beli (long) yang kuat.
Untuk perdagangan hari ini, sejatinya harga emas berpeluang naik. Resisten terdekat ada di level US$ 4.150-4.152/troy ons.
Cermati pivot point di US$ 4.166/troy ons. Dari situ, harga emas berpotensi mengetes rentang US$ 4.177-4.200/troy ons.
Target paling optimistis adalah US$ 4.242/troy ons.
Namun andai harga emas turun lagi, maka US$ 4.047/troy ons rasanya bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga ke kisaran US$ 4.012-4.008/troy ons.
Target paling pesimistis ada di US$ 3.860/troy ons.
(aji)




























