Logo Bloomberg Technoz

“Meski persaingan yang semakin ketat di sektor AI, meningkatnya kebutuhan pendanaan, dan suku bunga yang lebih tinggi dapat memicu volatilitas secara berkala, kami menilai gejolak terbaru ini lebih merupakan penyesuaian ulang ekspektasi ketimbang perubahan mendasar yang merusak prospek investasi AI,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office.

Koreksi saham mendorong meningkatnya minat investor terhadap obligasi, yang menawarkan imbal hasil mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Data inflasi terbaru sebelumnya telah memicu aksi jual besar-besaran pada obligasi pemerintah AS atau US Treasury, sehingga para trader sempat memperhitungkan kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir Januari. Namun, ekspektasi tersebut kemudian mereda. Dolar AS mencapai level tertinggi sejak Mei 2025.

“Semakin jelas bahwa inflasi masih sulit dikendalikan dan bergerak ke arah yang keliru,” kata Skyler Weinand dari Regan Capital. “Meski kami memperkirakan The Fed akan menahan perubahan suku bunga pada Oktober, kami memperkirakan kenaikan suku bunga akan kembali berlanjut pada Desember.”

Aksi Jual Saham Produsen Cip Semakin Dalam. (Sumber: Bloomberg)

Gubernur Bank Sentral atau Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh berjanji tidak akan mengarahkan pasar melalui pandangannya sendiri mengenai prospek kebijakan moneter dalam jangka pendek. Namun, kejutan inflasi terbaru akan meningkatkan perhatian terhadap pernyataannya pada Kamis malam waktu New York di Bangkok. Warsh dijadwalkan tampil dalam diskusi santai bersama Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva.

Tekanan inflasi meluas ke luar sektor energi, mengindikasikan bahwa tahap akhir untuk mengembalikan inflasi ke target masih akan penuh tantangan dan dapat membuat suku bunga bertahan tinggi, menurut Jeff Roach dari LPL Financial. Dia menambahkan, laporan terbaru tersebut memperumit keputusan The Fed bulan ini karena upaya mengembalikan stabilitas harga tampak semakin sulit.

Menurut Seema Shah dari Principal Asset Management, pertanyaan utamanya adalah apakah penguatan inflasi inti cukup untuk mengubah arah kebijakan The Fed. Pasar jelas diliputi kegelisahan, tetapi laporan terbaru belum cukup kuat untuk menghidupkan kembali alasan bagi kenaikan suku bunga pada Oktober, ujarnya.

Sementara itu, para ahli strategi TD Securities, termasuk Oscar Munoz dan Gennadiy Goldberg, menilai indeks harga konsumen (CPI) terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko inflasi. Namun, The Fed telah mengomunikasikan bahwa proses kenaikan suku bunga akan berlangsung secara bertahap.

“Laporan hari ini meningkatkan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober. Namun, kami masih meyakini The Fed akan menahan suku bunga dan memilih Desember, karena pasar sudah melakukan sebagian pengetatan kebijakan untuk mereka,” kata mereka.

Pergerakan utama di pasar:

Saham

  • S&P 500 turun 1,1% pada pukul 16.00 waktu New York.
  • Nasdaq 100 melemah 2%.
  • Dow Jones Industrial Average relatif tidak berubah.
  • MSCI World Index turun 0,9%.

Mata Uang

  • Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3%.
  • Euro melemah 0,4% ke US$1,1155.
  • Pound sterling turun 0,5% ke US$1,3190.
  • Yen Jepang relatif tidak berubah di level 158,37 per dolar AS.

Mata Uang Kripto

  • Bitcoin turun 1,9% ke US$81.789,53.
  • Ether melemah 3,2% ke US$2.428,75.

Obligasi

  • Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 5,19%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun relatif tidak berubah di 3,47%.
  • Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 5,42%.

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1% ke US$95,07 per barel.
  • Harga emas spot turun 1,4% ke US$4.100,43 per ons troy.

(bbn)

No more pages