Jika terealisasi, kesepakatan ini akan menempatkan CNGR sebagai pesaing bagi raksasa industri sekaligus sesama perusahaan China, Tsingshan Holding Group Co, di Indonesia.
Indonesia merupakan produsen terbesar logam nikel di dunia—yang digunakan dalam baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik—dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap pasokan global.
Namun, pembatasan ketat terhadap kuota pertambangan dan permintaan nikel telah menyebabkan penutupan sejumlah smelter di negara tersebut. Gunbuster dalam status penundaan kewajiban pembayaran utang sementara (PKPU) oleh pengadilan Indonesia pada Juni, setelah sebelumnya memangkas produksinya tahun lalu.
"Sebagai perusahaan yang terlibat secara mendalam dalam industri nikel global, CNGR terus mengevaluasi berbagai potensi peluang strategis dalam kegiatan bisnis sehari-hari," kata perusahaan China tersebut dalam tanggapan tertulis melalui surel.
Mereka menolak berkomentar secara spesifik mengenai akusisi Gunbuster, dengan alasan bahwa perusahaan Indonesia tersebut masih menjalani proses PKPU.
Gunbuster tidak menanggapi permintaan komentar.
Pabrik yang berlokasi di Pulau Sulawesi dan diresmikan pada tahun 2021 oleh Presiden saat itu, Joko Widodo, ini sempat menjadi simbol pesatnya pertumbuhan sektor nikel Indonesia, sebelum kemudian menghadapi masalah kelebihan kapasitas dan serangkaian kecelakaan kerja, yang beberapa di antaranya berakibat fatal.
Kapasitas tahunannya yang mencapai sekitar 1,8 juta ton nickel pig iron menjadikannya salah satu smelter mandiri terbesar di negara ini.
Gunbuster juga terdampak oleh restrukturisasi perusahaan afiliasi dari grup konglomerat asal China, Jiangsu Delong Nickel Industry Co, yang sebelumnya merupakan salah satu perusahaan baja tahan karat (stainless steel) terkemuka dunia sebelum mengalami kebangkrutan.
CNGR telah memiliki saham pengendali di sejumlah smelter nikel di Indonesia, termasuk PT Nadesico Nickel Industry yang berlokasi di dekat Gunbuster.
(bbn)






























