Saham–saham LQ45 turut menopang IHSG di teritori positif, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melejit 9,16%, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) lompat 8,68%. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 6,55%, dan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terbang 3,71%.
Investor mencermati lebih lanjut eskalasi konflik di Timur Tengah yang sama sekali belum ada tanda–tanda mereda, setelah kedua pihak gagal menemui kesepakatan untuk menggelar putaran baru perundingan damai sebelumnya.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, di tengah kecamuk tersebut, kapal–kapal bersenjata Iran dilaporkan melepaskan serangan terhadap mereka yang melintasi Selat Hormuz, dan berpotensi mengancam pemulihan ekspor minyak dari Teluk Persia, sekaligus meningkatkan kecemasan pasar terhadap keamanan di selat ini.
Terlebih lagi, ketegangan di Timur Tengah memantik perebutan kendali atas Selat Hormuz hingga potensi lumpuhnya Selat tersebut, jalur yang melayani seperlima ekspor energi dunia.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali diperdagangkan di rentang harga tinggi US$94,88 per barel, setelah melesat 7,51% point–to–point/ptp seperti yang dilihat data Bloomberg sore hari ini. Sementara itu, Brent menembus harga US$107 pada perdagangan Rabu (9/9/2026) melejit 5,77% ptp.
Menelisik lebih jauh, bila inflasi ikut merangsek naik menyusul ‘mahal’ nya biaya energi, kondisi ini memperbesar peluang Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk kembali melanjutkan tren kenaikan suku bunga acuan hingga lebih lama.
Adapun menyitir Mirae Asset Sekuritas, investor global cenderung bersikap prudent terkait laporan inflasi Amerika Serikat (AS) per September, terutama Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 14 Oktober, serta Producer Price Index (PPI) dan data penjualan ritel yang menyusul.
Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur persistensi tekanan harga dan kekuatan konsumsi domestik AS, sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Khusus untuk perilisan US CPI, konsensus ekonom memprediksi inflasi tahunan meningkat menjadi sekitar 3,6% dari sebelumnya 3,4% per Agustus, terutama dipengaruhi kenaikan harga energi.
“Jika inflasi kembali lebih tinggi daripada perkiraan, pasar berpotensi mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat atau suku bunga bertahan tinggi lebih lama (higher–for–longer),” tegas Mirae Asset dalam catatan terbarunya, yang turut menyebut kondisi tersebut dapat mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan memperbesar tekanan valuasi saham.
(fad/naw)






























