“Asap yang ada di udara sekitar area pabrik akibat dari Karhutla juga berdampak pada penurunan kelncaran aktivits kegiatn usaha karyawan perseroan,” kata Emmanuel lewat keterbukaan informasi, Rabu (14/9/2026).
Adapun, penurunan debit air Sungai Kapuas juga mengurangi pasokan air untuk kebutuhan proses produksi dan operasional di pabrik.
Meski demikian, perseroan menyatakan kondisi tersebut belum memengaruhi target produksi 2026 sehingga belum diperlukan revisi target produksi.
“Perseroan belum mengidentifikasi adanya dampak material terhadap pendapatan, laba, maupun nilai ast perseroan yang disebabkan oleh Karhutla,” kata Emmanuel.
Wilmar mengharapkan fenomena karhutla dan kondisi El Nino segera mereda agar kegiatan operasional dapat kembali berjalan lancar.
Wilmar memperkirakan dampak karhutla dan El Nino terhadap kegiatan operasional pabrik di Pontianak masih relatif terbatas, yakni sekitar 5%-10%.
Perseroan juga menyatakan tidak berniat menghentikan operasional maupun melakukan penghentian operasional yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) di pabrik tersebut.
Sementara itu, kegiatan operasional Wilmar di Jakarta Selatan dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, disebut tidak terdampak.
Dari sisi keuangan, Wilmar menyatakan belum mengidentifikasi dampak material terhadap pendapatan, laba, maupun nilai aset akibat karhutla.
Perseroan akan terus memantau perkembangan kebakaran serta dampaknya terhadap pasokan dan kualitas bahan baku yang diterima.
Wilmar juga menyatakan tidak sedang menghadapi maupun berpotensi menghadapi proses hukum atau sanksi administratif terkait Karhutla.
Dalam tanggapannya kepada bursa, perseroan menjelaskan tidak memiliki perkebunan kelapa sawit maupun lahan pertanian lain. Kegiatan usaha Wilmar berfokus pada industri pengolahan kelapa sawit.
Berdasarkan penjelasan perseroan, 100% produksi berasal dari kegiatan operasional di Pontianak. Sementara itu, sekitar 66% pendapatan berasal dari kegiatan di Pontianak dan 34% sisanya berasal dari aktivitas perdagangan.
BEI meminta penjelasan tersebut seiring meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Permintaan itu mencakup dampak terhadap operasional dan target produksi, estimasi dampak terhadap pendapatan dan laba, serta langkah mitigasi yang dilakukan perseroan.
(fik/naw)
































