Maka itu, Destry menegaskan bank sentral akan mendukung BPS dan lembaga terkait untuk menyusun serta menerbitkan data perhitungan ekonomi syariah.
Tak hanya ekonomi syariah, Destry menambahkan, kondisi keuangan syariah Indonesia juga semakin lama semakin berkembang. Berdasarkan data Bank Indonesia, pemerintah mulai menerbitkan surat berharga syariah negara berkelanjutan atau green sukuk sejak 2018, dengan total nilai mencapai US$7,7 miliar. Saat ini, pemerintah juga secara rutin menerbitkan sukuk global untuk memperluas akses pasar yang lebih luas.
Menurut Destry, investor yang berminat pada instrumen syariah semakin banyak karena produk keuangan syariah dianggap memiliki underlying sehingga relatif stabil. Maka itu, dia mengajak seluruh pemangku kepentingan terkait untuk turut mengembangkan produk keuangan syariah karena masih ada ruang yang besar untuk tumbuh.
"Nah ini yang menjadi peluang juga untuk keuangan syariah. Jadi saya mengajak kepada para tokoh-tokoh MUI (Majelis Ulama Indonesia), DSN (Dewan Syariah Nasional), mari kita bersama-sama merumuskan agar kita bisa menciptakan produk-produk keuangan syariah yang lebih bervariasi, karena sebenarnya permintahnya banyak sekali," ajak Destry.
(lav)































