Logo Bloomberg Technoz

Menanggapi situasi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menyatakan tengah mengatur pola distribusi dan memantau kebutuhan BBM di lapangan untuk menjaga kelancaran pasokan.

Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan pengaturan distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat konsumsi masyarakat serta kondisi operasional.

"Kebutuhan BBM masyarakat di Malang menjadi perhatian kami dalam mengatur pola pengiriman dan menjaga kelancaran pasokan. Pada September 2026, rata-rata konsumsi BBM harian di Malang mencapai 720 kiloliter per hari," kata Ahad Rahedi melalui keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026).

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pertamina mengatur pengiriman BBM dari Surabaya ke Malang secara bertahap. Khusus pada akhir pekan, frekuensi pengiriman akan ditingkatkan menjadi empat ritase.

Daerah Lain

Selain di Malang, antrean panjang kendaraan juga terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Jember.  Melansir dari akun Instagram @infojember, hingga hari ini antrean masih terjadi di SPBU, terutama untuk pembelian Pertalite.

"Nemu pom bensin di Jember yang kondisinya malah sepi saat pom lain lagi antre panjang sampai ke jalan, tetapi memang di sini hanya bisa beli Pertamax," ungkap @infojember, Rabu (14/10/2026).

Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan BBM, melainkan akibat distribusi dari Banyuwangi yang terganggu oleh kemacetan panjang di kawasan Ketapang.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Sartini, menjelaskan bahwa keterlambatan tersebut bermula dari perbaikan dermaga di Gilimanuk sejak 26 Agustus 2026.

Perbaikan ini mengurangi jumlah kapal penyeberangan dari 36 menjadi 23 unit, yang kemudian memicu penumpukan kendaraan di Ketapang hingga mencapai 12 kilometer pada 3 September 2026.

"Kalau kelangkaan tidak ada, yang ada adalah berkaitan dengan distribusi yang terhambat," kata Sartini saat berbicara dalam acara radio Halo Radio Republik Indonesia (RRI) melalui keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Dia menambahkan kondisi itu akhirnya berdampak pada mobil tangki Pertamina yang harus melintasi kawasan tersebut untuk mengambil maupun mengirim BBM dari depo di Banyuwangi.

Akibat kemacetan tersebut, waktu tempuh armada pengangkut BBM yang semula delapan jam menjadi jauh lebih lama.

Untuk mengatasinya, Pertamina mengalihkan jalur pengambilan BBM melalui terminal di Malang dan Surabaya sejak awal September 2026, serta menambah pasokan BBM untuk Jember sebesar 100 kiloliter.

"Pemkab Jember mengimbau masyarakat tidak panik dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, khususnya informasi di media sosial yang menyebut terjadi kelangkaan BBM," katanya.

Kesulitan Pertalite

Masalah pasokan BBM juga dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Bondowoso yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan Pertalite hingga harus berpindah-pindah SPBU.

Menanggapi hal tersebut, Manajer SPBU Tamansari sekaligus anggota Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Bondowoso, S. Jagir, membenarkan adanya keterlambatan pengiriman pasokan Pertalite dari Surabaya.

"Kiriman dari Surabaya. Soalnya armadanya kurang mungkin, tidak tahu lagi saya," ungkap Jagir melalui keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).

Kendati waktu kedatangannya sering terlambat dari jadwal, ia memastikan bahwa pasokan BBM untuk wilayah Bondowoso sebenarnya tetap tersedia.

"Tiap hari ada kiriman, tapi terlambat," katanya.

Untuk diketahui, dalam beberapa hari terakhir kelangkaan BBM terjadi di Pulau Bali. PT Pertamina (Persero) mengatakan hal ini bermula dari gangguan teknis dan operasional pada proses bongkar muat kapal tanker BBM di terminal pasokan utama.

Terhambatnya proses pengoperasian armada tangki laut ini membuat distribusi pasokan bahan bakar jenis Pertalite dan Pertamax ke Depo Manggis dan Pesanggaran terhenti beberapa saat, sehingga persediaan stok di tingkat SPBU terkuras dengan cepat.   

Kondisi tersebut diperparah oleh lonjakan konsumsi BBM bersubsidi di tengah masyarakat. Tingginya perbedaan harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi memicu pergeseran pola konsumsi kendaraan secara masif.

Lonjakan permintaan yang melebihi estimasi harian (permintaan lebih tinggi dari suplai) mempercepat kekosongan stok di berbagai SPBU daerah Denpasar, Badung, hingga Tabanan. Kepanikan warga (panic buying) juga muncul akibat kepastian pasokan yang minim dan narasi kelangkaan di media sosial. 

Pengendara yang khawatir kehabisan bensin lantas mengantre hingga berjam-jam dan meluber ke jalan raya, yang berujung pada kelumpuhan sistem distribusi harian Pertamina.

Guna mengurai krisis ini, Pertamina mengerahkan tambahan armada kapal tanker serta mengoperasikan SPBU kunci secara nonstop 24 jam.

(smr/wdh)

No more pages