Logo Bloomberg Technoz

Di samping itu, saham–saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) yang melesat 26,6%, saham PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) melonjak 25%, dan saham PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) melejit 24,9%.

Bursa Saham Asia lainnya yang turut menguat searah dengan IHSG, TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), Hang Seng (Hong Kong), KLCI (Malaysia), KOSPI (Korea Selatan), dan SENSEX (India), yang berhasil menguat masing–masing mencapai 1,02%, 0,48%, 0,48%, 0,37%, 0,11%, dan 0,09%.

Di sisi berseberangan, KOSDAQ (Korea Selatan), Shenzhen Comp. (China), PSEI (Filipina), CSI 300 (China), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Shanghai Comp. (China), SETI (Thailand), Straits Times (Singapura), dan TOPIX (Jepang), yang tertekan dan drop dengan masing-masing 1,33%, 0,89%, 0,82%, 0,66%, 0,51%, 0,34%, 0,13%, 0,04%, dan 0,02%.

Sentimen yang meragam IHSG dan Bursa Asia hari ini datang dari ketegangan yang kembali memanas di Timur Tengah, memaksa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai melambat (lagi), seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Terbaru, serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz meningkat tajam dan berpotensi mengancam pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia, sekaligus meningkatkan kecemasan pasar terhadap keamanan di selat ini.

Eskalasi konflik di Timur Tengah terus meningkat, terlebih setelah Arab Saudi menghadapi gelombang serangan dari kelompok Houthi di Yaman, pasukan pemberontak yang disebut–sebut memiliki hubungan dengan Teheran. Situasi yang memburuk turut mendorong guncangan lagi baru–baru ini, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent kembali di atas US$106 per barel.

Tanda-tanda kehati-hatian di kalangan operator kapal semakin terlihat. Data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg menunjukkan lebih dari selusin kapal tanker superbesar dan beberapa kapal kelas Suezmax berbalik arah atau mengubah haluan saat mendekati Fujairah, pusat pelayaran penting di Uni Emirat Arab yang terletak di dekat pintu masuk Selat Hormuz.

Serangan yang berlanjut berisiko memicu percepatan inflasi, yang pada nantinya dapat memaksa Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) kembali mengerek suku bunga acuan. Terlebih lagi, Gubernur Federal Reserve (The Fed) Bank of New York John Williams mengatakan pernyataannya soal kenaikan suku bunga satu kali lagi tahun ini sebagai langkah yang tepat.

(fad)

No more pages