Meski angka terbaru indeks harga produsen (PPI) lebih tinggi dari perkiraan, tingkat inflasi China yang relatif terkendali telah melindungi obligasi domestiknya dari aksi jual di pasar obligasi global. Imbal hasil obligasi pemerintah China bertenor 10 tahun bertahan di 1,65% setelah data tersebut dirilis, menyusul penutupan perdagangan Selasa pada level terendah sejak Juli 2025.
Dong Lijuan, ahli statistik Biro Statistik Nasional China, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kenaikan harga minyak mentah dan logam nonbesi di pasar internasional mendorong peningkatan biaya bulanan di sejumlah industri terkait di dalam negeri. Kenaikan harga bensin menyumbang sekitar setengah poin persentase terhadap kenaikan IHK tahunan pada September.
Risiko deflasi sempat kembali meningkat pada musim panas, tetapi tekanan harga kini mulai menguat seiring kembali berlanjutnya serangan di Timur Tengah dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap pasokan produk minyak global. Selain menambah beban konsumen, kenaikan biaya juga akan semakin menekan margin perusahaan-perusahaan di China. Mereka kesulitan meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pembeli, sementara pertumbuhan laba industri sudah berada pada laju terlemah tahun ini.
Harga minyak mentah Brent telah melonjak lebih dari 70% sepanjang tahun ini karena perang AS-Iran mengguncang pasar energi. Lonjakan permintaan yang dipicu perkembangan AI juga mulai mendorong kenaikan harga. Kelangkaan semikonduktor dan komponen elektronik lainnya menyebabkan biaya cip meningkat.
Setelah bertahun-tahun mengekspor tekanan disinflasi ke negara-negara lain, kenaikan biaya input kini mendorong lonjakan tajam harga ekspor China. Pada Agustus, kenaikan harga ekspor tersebut mencapai 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi yang tertinggi sejak 2022.
Namun, harga impor melonjak lebih cepat, yakni hampir 30%. Angka tersebut merupakan kenaikan tertinggi dalam rangkaian data yang tersedia sejak dua dekade terakhir.
(bbn)































