Pemerintah tidak berada dalam posisi untuk meningkatkan anggaran pendidikan secara drastis. Di tengah pembahasan anggaran yang berlangsung di Majelis Nasional, Perdana Menteri Sébastien Lecornu berupaya memperoleh dukungan parlemen untuk menekan belanja pemerintah secara signifikan dan mengurangi defisit fiskal menjadi 5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2027—target yang gagal dicapai tahun ini. Kelompok oposisi yang dua kali menjatuhkan perdana menteri dalam dua tahun terakhir karena rencana anggaran enggan berkompromi, sementara pemilihan presiden tinggal kurang dari tujuh bulan lagi.
Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan Prancis diperkirakan terus membayangi hingga pemilihan presiden 2027 dan setelahnya. Aksi jual di pasar dalam beberapa pekan terakhir telah mendorong biaya pinjaman pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam hampir 25 tahun. Pada Jumat, premi risiko obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun terhadap obligasi Italia mencapai rekor tertinggi.
Para siswa SMA memprotes sejumlah persoalan, termasuk kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu padat, serta jadwal pelajaran yang kacau. Mereka tetap menuntut tambahan sumber daya meskipun pemerintah mengumumkan langkah-langkah darurat pekan lalu untuk mengatasi sebagian keluhan mereka.
Sekitar 200 sekolah diperkirakan tutup pada Selasa akibat aksi protes tersebut, kata Menteri Pendidikan Edouard Geffray dalam wawancara dengan radio France Inter. “Jumlahnya mulai menurun dibandingkan pekan-pekan sebelumnya,” ujarnya.
Sejumlah saluran berita menayangkan gambar ketegangan antara demonstran dan polisi di Nantes dan Strasbourg pada Selasa siang, sebelum aksi di Paris dimulai. Aktivis Swedia Greta Thunberg terlihat berada di depan sebuah SMA di Saint-Denis, wilayah utara Paris. Sementara itu, sekitar 90% universitas di Prancis juga diblokade atau mengalami gangguan, menurut L’Union Étudiante.
Lonjakan harga bahan bakar turut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya gejolak sosial. Seruan di media sosial bermunculan untuk kembali menggelar aksi protes ala Rompi Kuning pada Sabtu ini. Gerakan akar rumput tersebut bermula pada 2018 dan kemudian berkembang menjadi demonstrasi berskala nasional.
Aksi protes dan pemogokan berikutnya telah dijadwalkan pada 5 November. Serikat pekerja CFDT, CGT, dan FO mengajak pekerja sektor publik maupun swasta untuk melakukan mobilisasi demi memperjuangkan lapangan kerja dan upah yang lebih tinggi, serta menentang rancangan anggaran pemerintah.
Sekitar 57% warga Prancis mendukung gerakan siswa tersebut, menurut jajak pendapat Cluster 17 yang diterbitkan pada Minggu.
“Ada konsensus bahwa sistem pendidikan publik sedang mengalami kemunduran. Karena itu, tuntutan mereka secara umum dapat dipahami,” kata Jean-Yves Dormagen, pendiri lembaga survei Cluster 17.
(bbn)
































