"Ngga ada [kenaikan], jadi lebih difokuskan, lebih ditarget," pungkasnya.
Untuk diketahui, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan gеоpolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada penetapan rata-rata ICP September 2026.
Kementerian ESDM menetapkan rata-rata ICP September 2026 di level US$112,81/barel.
Angka ini mencatatkan kenaikan tajam sebesar US$23,38 jika dibandingkan dengan harga pada Agustus 2026 yang masih bertengger di posisi US$89,43/barel.
Keputusan resmi tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia bulan September 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan, untuk menanggapi kondisi ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memantau fluktuasi harga secara ketat demi menjaga stabilitas dan ketahanan energi nasional.
"Rata-rata ICP September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81/barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan. Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," papar Laode melalui keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).
Dia menjelaskan eskalasi militer membuat jalan buntu pada jalur diplomasi di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, mengancam jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Di samping itu, kondisi geopolitik ini mendorong kenaikan serentak pada seluruh minyak mentah acuan dunia pada September 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya, di antaranya sebagai berikut:
- Brent (ICE) naik US13,94menjadiUS$102,02/barel.
- WTI (Nymex) naik US13,24menjadiUS$95,69/barel.
- Dated Brent naik US25,93menjadiUS$116,77/barel.
- Basket OPEC naik US24,29menjadiUS$110,73/barel.
Meskipun diperkirakan mulai mengalami pelandaian pada Oktober 2026 ke kisaran US$98—US$103/barel, angka ICP diprediksi tetap berada di level yang relatif tinggi.
(prc/ell)





























