Arab Saudi telah berkonflik dengan kelompok Houthi sejak kelompok tersebut menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, pada 2014 dan memaksa pemerintah yang diakui secara internasional serta didukung Saudi mengundurkan diri pada tahun berikutnya.
Eskalasi terbaru dimulai pada Juli, ketika jet tempur Saudi menyerang landasan pacu bandara di Sanaa untuk mencegah pesawat yang membawa delegasi Houthi yang kembali dari Iran mendarat. Permusuhan meningkat dalam sepekan terakhir setelah pasukan koalisi pimpinan Saudi di Yaman melancarkan operasi baru untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi.
Otoritas penerbangan AS memperingatkan agar pesawat tidak terbang menuju atau melintasi sejumlah wilayah di Arab Saudi. Sementara itu, Kedutaan Besar AS menyatakan bahwa pegawai pemerintah AS harus memperoleh izin khusus untuk menggunakan bandara mana pun di negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa dirinya telah berbicara dengan Putra Mahkota Saudi setelah serangan pada akhir pekan. Sebelumnya, Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan AS ikut terlibat dalam pertempuran melawan kelompok militan yang didukung Iran tersebut.
AS saat ini telah membantu Riyadh melalui dukungan intelijen, penentuan target, dan pengisian bahan bakar pesawat di udara. Namun, keterlibatan langsung AS sekalipun kemungkinan tidak akan mampu mencegah serangan Houthi terhadap kerajaan tersebut, menurut Aaron David Miller, peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace. Miller sebelumnya bekerja di Departemen Luar Negeri AS untuk memberikan saran kepada sejumlah pemerintahan AS mengenai kebijakan Timur Tengah.
“Arab Saudi sangat rentan. Houthi bertekad menunjukkan bahwa kedekatan geografis mereka merupakan sebuah keuntungan,” kata Miller kepada Bloomberg TV pada Senin (12/10). “Sejujurnya, saya tidak berpikir kita bisa membuat Houthi mundur, mengingat mereka kini merasa berada di posisi yang lebih unggul.”
Menteri Media Arab Saudi Salman Al-Dosary menyerukan solidaritas nasional untuk melindungi kerajaan dari serangan Houthi, menurut kantor berita resmi Saudi Press Agency.
Serangan Houthi terjadi pada waktu yang sangat sensitif bagi kerajaan tersebut, yang tengah bersiap menjadi tuan rumah sejumlah acara internasional bergengsi. Sejumlah eksekutif perusahaan menolak menghadiri Kongres Perminyakan Dunia yang berlangsung di ibu kota pada pekan ini. Sementara itu, Misk Global Forum, yang semula dijadwalkan berlangsung bulan depan, dibatalkan oleh penyelenggara.
Riyadh juga dijadwalkan menjadi tuan rumah Future Investment Initiative, forum investasi utama kerajaan tersebut, pada akhir bulan ini.
Acara itu biasanya dihadiri sejumlah tokoh besar Wall Street, mulai dari Larry Fink dari BlackRock hingga Jane Fraser dari Citigroup Inc. Arab Saudi memanfaatkan forum tersebut sebagai wadah untuk mempromosikan diri sebagai salah satu tujuan investasi paling menarik di kawasan.
(bbn)






























