Berikut empat gangguan mata yang perlu diwaspadai masyarakat:
1. Glaukoma, Pencuri Penglihatan
Glaukoma merupakan salah satu penyakit mata yang dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari penderitanya. Penyakit ini kerap dijuluki sebagai pencuri penglihatan karena dapat merusak saraf mata secara bertahap hingga menyebabkan kebutaan.
Budu menjelaskan, glaukoma berkaitan dengan kerusakan saraf optik, yang salah satu faktor risikonya adalah peningkatan tekanan bola mata.
Menurut dia, deteksi dini sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Sebab, kerusakan saraf mata akibat glaukoma yang sudah terjadi tidak dapat dipulihkan.
Penanganan glaukoma bertujuan mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan penglihatan semakin parah. Pasien mungkin perlu menggunakan obat secara rutin atau menjalani operasi sesuai kondisi medisnya.
2. Retinopati Diabetik, Kerusakan Retina akibat Diabetes
Retinopati diabetik merupakan gangguan pada retina mata yang terjadi akibat diabetes melitus. Penyakit ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal, sehingga penderita diabetes perlu memeriksakan mata secara berkala meskipun penglihatannya masih terasa normal.
Budu mengatakan, gangguan mata pada penderita diabetes sering kali baru terdeteksi ketika penglihatan mulai kabur. Padahal, kerusakan retina bisa berkembang selama bertahun-tahun sebelum menimbulkan keluhan.
Dia menjelaskan, pemeriksaan mata sejak awal seseorang didiagnosis diabetes dapat membantu mendeteksi gangguan lebih cepat dan mencegah kerusakan yang lebih berat.
"Sebaliknya, jika pemeriksaan baru dilakukan setelah penglihatan terganggu, kerusakan yang terjadi bisa lebih sulit ditangani dan berisiko menjadi permanen,"katanya.
3. Katarak, Penyebab Utama Kebutaan di Indonesia
Katarak merupakan kondisi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan tampak buram. Penyakit ini sering berkaitan dengan pertambahan usia dan menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di Indonesia.
Budu menjelaskan, katarak sebenarnya dapat ditangani melalui operasi. Namun, persoalannya adalah masih banyak masyarakat yang belum menyadari kondisi matanya atau takut menjalani operasi.
Dia mencontohkan, tenaga kesehatan masih harus mendatangi masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, untuk mencari pasien yang membutuhkan operasi katarak.
Bahkan, menurut Budu, masih ada masyarakat yang menolak menjalani operasi karena merasa takut. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan dan dukungan pembiayaan juga menjadi tantangan.
"Karena itu, katarak bukan sekadar faktor usia, tetapi harus dideteksi secara dini," ujarnya.
Budu membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang. Di negara tersebut, masyarakat dinilai lebih menyadari kondisi kesehatan matanya sehingga pasien katarak datang ke dokter untuk berkonsultasi dan menjalani operasi.
Sementara itu, di Indonesia, katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan karena sebagian penderita belum menyadari kondisinya atau belum bersedia memeriksakan mata.
4. Gangguan Penglihatan pada Anak
Gangguan penglihatan pada anak juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan proses belajar.
Salah satu gangguan yang dapat terjadi adalah kelainan refraksi, seperti mata minus atau rabun jauh. Kondisi ini membuat anak kesulitan melihat objek pada jarak tertentu.
Karena itu, pemeriksaan penglihatan sejak dini, termasuk melalui pemeriksaan di sekolah, penting untuk mengetahui apakah anak mengalami gangguan mata yang membutuhkan penanganan.
Deteksi dini memungkinkan anak mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga gangguan penglihatan tidak menghambat proses belajar dan aktivitasnya.
Budu mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan mata hanya karena belum merasakan keluhan. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mendeteksi penyakit yang berkembang tanpa gejala dan mencegah gangguan penglihatan berujung pada kebutaan.
(dec/spt)



























