Logo Bloomberg Technoz

Persediaan energi global terus terkuras untuk menyerap dampak kekurangan pasokan sejak AS menyerang Iran. Cadangan penyangga tersebut berisiko semakin menipis jika konflik terus berlanjut. Di sisi lain, lonjakan industri AI telah mendorong permintaan perangkat keras dan berpotensi meningkatkan produktivitas secara luas, tetapi juga membawa risiko keuangan. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi baru-baru ini membuat pengurangan defisit anggaran dan utang publik semakin mendesak.

“Perekonomian global telah menunjukkan ketahanan, tetapi ketahanan itu mulai mencapai batasnya,” kata Kepala Ekonom IMF Silvana Tenreyro. Ia menambahkan bahwa risiko terhadap pertumbuhan lebih condong ke arah penurunan.

“Kita perlu memulihkan ruang fiskal,” kata Tenreyro dalam konferensi pers di Bangkok pada Selasa. “Itulah pekerjaan rumah bagi semua pihak untuk memastikan bahwa kita tetap tangguh.”

Prospek Pertumbuhan yang Lesu

Meski pertumbuhan diperkirakan kembali menguat tahun depan, laju pertumbuhan ekonomi global masih akan berada di bawah rata-rata 3,5% selama dua tahun sebelumnya. IMF juga menggambarkan prospek ekonomi jangka menengah sebagai “lesu”.

Salah satu penyebabnya adalah manfaat AI yang tidak merata. Laporan tersebut menyoroti kesenjangan yang semakin lebar seiring perkembangan teknologi ini. Menurut IMF, hampir dua pertiga tambahan perdagangan perangkat keras komputasi berasal dari hanya dua negara, yakni Taiwan dan Korea Selatan. Sementara itu, AS dan China menyumbang lebih dari 75% impor bersih terkait AI pada tahun lalu.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi global semakin bergantung pada basis yang lebih sempit. IMF menyebutkan bahwa saat ini hanya 32 perekonomian yang menyumbang 95% dari total ekspansi ekonomi global, dibandingkan dengan 54 negara enam bulan sebelumnya.

“Apakah lonjakan permintaan terkait AI akan berubah menjadi guncangan positif dari sisi penawaran dalam jangka panjang melalui peningkatan produktivitas yang lebih cepat, masih harus dilihat,” kata IMF. Sementara itu, lonjakan tersebut “berkontribusi terhadap tekanan inflasi dan kerentanan keuangan”.

Meski demikian, IMF memperkirakan inflasi akan melambat tahun depan. Lembaga tersebut memproyeksikan inflasi umum global turun menjadi 4,1%, kembali ke level 2025, setelah meningkat tajam menjadi 4,7% tahun ini.

Terkait tantangan anggaran yang disoroti di tengah gejolak pasar obligasi, IMF mengatakan diperlukan “rencana penyesuaian yang kredibel” untuk memulihkan penyangga fiskal.

“Tugas ke depan adalah beralih dari sekadar mengatasi masalah menuju membangun kembali ketahanan,” kata Tenreyro.

Prancis Mengalami Penurunan Proyeksi

Proyeksi peningkatan pertumbuhan ekonomi global tahun depan bergantung pada percepatan pertumbuhan di negara-negara berkembang maupun negara maju. Untuk kelompok negara maju, IMF memperkirakan pertumbuhan melambat menjadi 1,8% pada 2027, dari 2,1% tahun ini.

IMF memproyeksikan ekonomi AS, yang merupakan perekonomian terbesar di dunia, tumbuh 2,3% pada 2027. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2,2% pada Juli. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan China pada 2027 tetap sebesar 4%.

Di antara negara-negara ekonomi utama, Prancis mencatat penurunan proyeksi yang menonjol. Perekonomiannya diperkirakan hanya tumbuh 0,4% tahun ini dan 0,7% pada 2027. Kedua angka tersebut masing-masing 0,2 poin persentase lebih rendah dibandingkan proyeksi IMF pada Juli.

Jerman diperkirakan tumbuh 1,1% pada 2027. Sementara itu, pertumbuhan Inggris diproyeksikan sedikit melambat menjadi 1,2% karena harga energi dan suku bunga tinggi menekan konsumsi.

Tenreyro mengatakan Asia menunjukkan ketahanan yang “luar biasa”, dengan lonjakan industri AI mengimbangi tekanan dari pasar komoditas. “AI telah menjadi pendorong utama kinerja yang kuat ini sekaligus menjadi faktor besar di balik revisi naik proyeksi pertumbuhan,” katanya.

(bbn)

No more pages