Logo Bloomberg Technoz

Penyimpangan suhu hangat hingga 2°C di atas rata-rata juga diperkirakan akan secara bertahap meluas ke sebagian besar wilayah China, kecuali wilayah pesisir timur yang padat penduduk, menjelang Januari.

Ketiga negara tersebut merupakan importir LNG terbesar di Asia, dan melemahnya permintaan dapat membebaskan pasokan untuk Eropa, yang membutuhkan pasokan tambahan guna memperkuat cadangan yang berada di bawah tingkat normal menjelang musim dingin.

Suhu di atas normal juga berpotensi mengurangi konsumsi batu bara, yang sempat mengalami lonjakan permintaan dan harga akibat gangguan pasokan di Timur Tengah. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan LNG dunia dikirim melalui Selat Hormuz ke pelanggan global.

Prospek untuk Asia ini sejalan dengan prakiraan musim dingin yang relatif lebih hangat di Eropa, sementara sebagian wilayah barat, selatan, dan tenggara AS diperkirakan akan lebih basah dan sedikit lebih dingin dari biasanya.

El Niño adalah fenomena iklim alami yang biasanya membawa kondisi hangat dan kering ke Asia, sehingga mengurangi curah hujan dan memperparah kebakaran hutan.

Meski ECMWF dan beberapa model musiman lainnya memproyeksikan musim dingin yang lebih hangat di China dan Jepang, ada "risiko tersembunyi" dalam prospek tersebut, kata Christian Werner, direktur pelaksana Global Weather Climate Analytics.

"Di balik kecenderungan suhu hangat ini, ada periode singkat selama satu hingga dua minggu di mana suhu rata-rata hingga di bawah rata-rata akibat pergerakan pusaran kutub ke arah selatan," ujarnya.

Pusaran kutub merupakan sabuk angin di sekitar wilayah Arktik, yang dapat melemah dan bergerak ke arah selatan, sehingga memungkinkan udara dingin menyebar dan memicu gelombang udara dingin serta meningkatnya kebutuhan akan pemanas ruangan. 

Namun, fenomena hembusan udara dingin dari Arktik ini mungkin lebih kecil kemungkinannya terjadi pada musim ini. Hansi Singh, CEO sekaligus pendiri Planette AI, menyatakan fenomena El Niño dengan kekuatan rekor dan pergeseran angin stratosfer di sekitar Kutub Utara akan menurunkan probabilitasnya dalam beberapa bulan mendatang.

"Musim dingin kali ini bisa dibilang merupakan kebalikan dari tahun lalu, saat kondisi yang ada justru sangat mendukung terjadinya hembusan udara dingin," tambahnya.

(bbn)

No more pages