Logo Bloomberg Technoz

Ekspor Kumulatif 

Di sisi lain, sepanjang Januari—September 2026 atau year to date (ytd), SX Coal mencatat ekspor batu bara Indonesia melalui jalur laut mencapai 338 juta metrik ton atau turun 6,16% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sepanjang Januari—September 2026, ekspor batu bara Indonesia ke China tercatat sebesar 129 juta metrik ton atau turun 6,38% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, SX Coal mencatat India menjadi negara tujuan ekspor batu bara terbesar kedua dengan volume sebesar 8,53 juta metrik ton pada September 2026.

Besaran tersebut dilaporkan naik 22,03% dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi turun 3,63% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Selanjutnya, ekspor batu bara Indonesia ke Filipina mencapai 3,37 juta metrik ton pada September 2026, naik 9,02% dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan naik 6,97% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kemudian, ekspor batu bara Indonesia ke Malaysia pada September 2026 mencapai 1,87 juta metrik ton atau turun 10,69% secara bulanan dan turun 26,02% secara tahunan.

Ekspor batu bara ke Vietnam pada September 2026 mencapai 1,86 juta metrik ton, turun secara 8,37% dan naik 4,77% secara tahunan.

“Dari sisi permintaan, kenaikan ekspor batu bara Indonesia yang sedikit secara bulanan terutama didukung oleh pemulihan permintaan dari beberapa pasar Asia termasuk India dan Filipina,” tegas SX Coal.

Adapun, harga batu bara termal di China melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun akibat lambatnya pertumbuhan produksi dalam negeri dan gangguan pasokan dari eksportir utama, Indonesia, yang bertepatan dengan lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Iran.

Menurut Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, harga acuan batu bara pembangkit listrik mencapai 1.004 yuan atau setara US$150 per metrik ton pada Senin (12/10/2026). 

Hal tersebut kali pertama harga menyentuh angka empat digit dalam dua tahun terakhir, harga telah naik sebesar seperempat sejak pertengahan Juli.

Batu bara tetap menjadi bahan baku utama pembangkit listrik di China—mencakup sekitar separuh dari bauran energi negara tersebut—meskipun telah terjadi pengembangan energi terbarukan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Produksi bahan bakar fosil dalam negeri turun lebih dari 3% pada periode hingga Agustus dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, akibat diperketatnya langkah-langkah keselamatan menyusul insiden runtuhnya tambang yang mematikan di Provinsi Shanxi pada Mei.

Sementara itu, kegiatan pemeliharaan selama tiga pekan pada jalur kereta api utama pengangkut batu bara di China—yang berlangsung hingga 26 Oktober—diperkirakan akan menjaga harga tetap tinggi.

Selain masalah domestik, pengiriman dari Indonesia—pemasok utama batu bara termal luar negeri bagi China—turun tajam tahun ini karena Jakarta berupaya membatasi produksi demi mendongkrak harga dan meningkatkan pendapatan negara.

Baru-baru ini, kekeringan yang dikaitkan dengan pola cuaca El Niño telah menurunkan permukaan air sungai di wilayah penghasil batu bara utama Indonesia, sehingga memaksa operator tongkang mengurangi muatan.

Sekadar catatan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan capaian produksi batu bara nasional hingga Juli 2026 telah menembus angka 423,71 juta metrik ton. 

Dari total produksi sebanyak 423,71 juta metrik tontersebut, porsi ekspor mendominasi sebesar 63,82% (270,40 juta metrik ton). Sementara itu, pemenuhan kebutuhan dalam negeri menyerap 26,86% (113,40 juta metrik ton) dan sisanya sebesar 9,32% (39,51 juta metrik ton) menjadi stok nasional.

Dari realisasi produksi selama tujuh bulan tersebut, rata-rata produksi batu bara nasional berada di kisaran 60 juta metrik ton per bulan.

Dengan begitu, Kementerian ESDM memperkirakan produksi batu bara mencapai 720 juta metrik ton hingga akhir 2026.

(azr/wdh)

No more pages