Logo Bloomberg Technoz

“Menunjukkan bahwa kerangka regulasi berperan dalam menentukan pasokan Indonesia,” tegas SX Coal.

Selain itu, SX Coal mencatat rendahnya ketinggian air di sejumlah sungai di Indonesia membatasi pemuatan tongkang. 

Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan dilaporkan menurunkan ketinggian air hingga 4 meter, sehingga operator tongkang mengurangi ukuran pengiriman.

“Ketidakpastian regulasi menambah tekanan lebih lanjut pada pasokan. Meskipun kuota tambahan mengembalikan sebagian pasokan, kuota tersebut tidak pernah menjadi kendala utama, dan pasokan dapat terus menyusut jika cuaca musim kemarau terus berlanjut,” tegas SX Coal.

Gangguan Pasokan

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan saat ini industri semen tengah mengalami krisis kelangkaan batu bara akibat tersendatnya pasokan domestic market obligation (DMO).

Hal ini terjadi bersamaan dengan adanya fenomena El Niño yang berdampak pada kekeringan sungai hingga menyebabkan kendala logistik pengiriman batu bara ke pabrik-pabrik semen.

Lilik menjelaskan, hingga awal September 2026, persediaan batu bara di sebagian besar pabrik semen terus menipis.

“Per awal September 2026, stok batu bara di sebagian besar pabrik semen menipis hingga hanya tersisa untuk 2 sampai 3 hari operasi,” terang Lilik kepada Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026).

Dia mengelaborasi kelangkaan bahan batu bara tersebut memaksa beberapa pabrik menghentikan sementara fasilitas produksi mereka, yang mengakibatkan hilangnya potensi pasokan klinker atau bahan setengah jadi semen hingga mencapai 1,2 juta ton.

Lilik juga menegaskan masalah logistik yang sebelumnya sudah terjadi kini kian diperparah oleh fenomena El Niño dan kekeringan aliran sungai yang menghambat jalur distribusi pasokan batu bara ke pabrik-pabrik semen.

“El Niño dan kekeringan sungai memperparah kondisi yang ada, pada logistik batu bara. Sebelumnya memang ada masalah,” tambahnya.

Adapun, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan instansinya telah menyetujui 95% pengajuan RKAB batu bara 2026.

Meski demikian, Tri enggan memberikan angka detail RKAB batu bara 2026 yang telah disetujui sejauh ini.

“[Sebanyak] 95% RKAB keluar, sudah selesai,” ujar Tri saat ditemui awak media usai agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ihwal jumlah perkiraan produksi batu bara Indonesia secara keseluruhan pada 2026, Tri memang tidak memberi detail.

Namun, dia menyatakan prediksi total produksi tetap sama dengan yang sebelumnya dia sebutkan, yaitu sekitar 720 juta mt atau dengan rata-rata produksi sekitar 60 juta mt per bulan.

“Ya sekitar itu [720 juta mt] lah,” kata Tri.

Sekadar catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas unggulan Indonesia, batu bara, mengalami tren pelemahan dari sisi volume meski mengalami penguatan nilai selama periode Januari—Agustus 2026.

Berdasarkan data BPS, volume pengiriman batu bara ke pasar internasional merosot 9,33%, yaitu dari 251,13 juta ton menjadi 227,70 juta ton.

Namun, kenaikan volume ekspor tersebut kontras dengan nilai ekspor batu bara, yang masih tumbuh 4,31% dari US15,90miliarmenjadiUS16,58 miliar.

"Batu bara secara kumulatif nilai ekspornya mengalami peningkatan sebesar 4,31%," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers pada Kamis (1/10/2026).

(azr/wdh)

No more pages