Total pengeboran eksplorasi sebelumnya mengacu pada posisi akhir kuartal II-2026 seluas 31.485 meter dengan mencakup 102 lubang bor.
Kegiatan difokuskan pada persiapan pengeboran, penggantian corebox, penataan coreshed dan kajian teknis untuk meningkatkan kesiapan pelaksanaan setelah izin diperoleh.
Hasil awal memperlihatkan variasi mineral sulfida dan himpunan mineral alterasi yang digunakan sebagai dasar pengembangan domain geometalurgi.
“Analis petrografi dan mineralogi otomatis menunjukkan kemajuan 15 dari 70 sampel,” dikutip dari keterbukaan informasi.
Eksplorasi prospek Upper Tengkareng itu menjadi bagian dari upaya DEWA untuk mempertebal keyakinan atas cadangan emas yang bisa dikembangkan dari Gayo Lues, Aceh.
Perseroan telah mengontrak SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd untuk menyusun domain geologi dan domain estimasi untuk persiapan audit JORC. Kunjungan lapangan pertama SRK telah dilaksanakan pada September 2026.
Di sisi lain, manajemen DEWA mengatakan tengah berkoordinasi dengan otoritas mineral untuk percepatan perpanjangan IUP eksplorasi dan peningkatan izin menjadi IUP Operasi Produksi.
Seraya Laju Karya
Sebelumnya, DEWA mengikat pinjaman tanpa bunga dengan PT Seraya Laju Karya untuk mendanai proyek eksplorasi tambang emas di Gayo Lues, Aceh.
Pengikatan perjanjian pendanaan itu dilakukan anak usaha DEWA, PT Gayo Mineral Resources dengan PT Seraya Laju Karya pada 24 November 2025.
Adapun, Seraya Laju Karya berkomitmen untuk memberikan pinjaman dengan plafon Rp455 miliar yang akan jatuh tempo pada 31 Desember 2028.
Kontrak pendanaan itu diteken selang tiga hari setelah DEWA mengakuisisi mayoritas saham Gayo Mineral Resources lewat PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN).
Lewat kepemilikan mayoritas saham Gayo Mineral itu, DEWA kini mempunyai akses langsung pada tambang emas Gayo Lues. Mengutip laporan keuangan DEWA yang berakhir Juni 2026, nilai aset tambang Gayo Mineral itu mencapai Rp7,03 triliun.
Kendati demikian, DEWA mesti melakukan eksplorasi lanjutan untuk memastikan nilai ekonomi dan prospek cadangan emas dan tembaga yang tersimpan pada konsesi tersebut.
Proyek eksplorasi Gayo Lues dalam 12 bulan terakhir berfokus pada prospek utama Upper Tengkereng dan Lower Tengkereng.
Kedua wilayah tersebut saat ini masih berada pada tahap eksplorasi awal hingga menengah, dengan kegiatan pengeboran yang menargetkan fitur-fitur geologi prospektif yang telah diidentifikasi melalui pemetaan permukaan, pengambilan sampel geokimia, dan survei geofisika.
Pinjaman tanpa bunga dari Seraya Laju Karya terlihat menopang kegiatan eksplorasi awal yang tengah dikerjakan DEWA di Gayo Lues. DEWA menyerap Rp196,53 miliar pinjaman dari Seraya dalam kurun November-Desember 2025.
Sampai periode yang berakhir Juni 2026, DEWA telah mencairkan Rp297,88 miliar dari pinjaman yang diberikan Seraya atau sekitar 65% dari plafon.
Manajemen DEWA menuturkan Seraya Laju Karya berperan sebagai pihak ketiga yang mendukung pendanaan kegiatan eksplorasi Gayo Mineral saat ini.
Manajemen DEWA tidak menanggapi pertanyaan Bloomberg Technoz ihwal kemungkinan investasi lanjutan Seraya di anak usaha kontraktor tambang Grup Bakrie tersebut.
(naw)































