Dia meramal Eni memasang harga premium ketika melepas 10% hak partisipasinya di 7 WK tersebut, sebab Eni sudah melakukan pengembangan terlebih dahulu di blok migas tersebut.
“Hal lain tentu ENI sudah pasang harga premium tertentu, karena ENI yang lebih dahulu take action di WKP tersebut,” tutur Hadi.
Hadi memandang langkah Eni tersebut tidak memiliki kaitan dengan iklim investasi di hulu migas Indonesia yang belakangan terbilang lesu.
Dia menilai langkah yang dilakukan Eni merupakan aksi korporasi untuk berbagi risiko dalam menggarap 7 WK tersebut.
“Lesunya investasi migas terkait iklim investasi Indonesia yang belum kondusif sepenuhnya tidak terkait langsung dengan merger and acquisition,” ujar dia.
Sekadar informasi, Eni melepas 10% hak partisipasi di tiga WK Kalimantan Timur, yakni; North Ganal, Rapak, dan East Sepinggan.
Transaksi tersebut dilakukan Eni dengan PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Melalui akuisisi tersebut, PHE bakal memiliki 10% PI di WK North Ganal dan Rapak, serta penambahan PI di WK East Sepinggan dari sebelumnya 15% menjadi 25%.
Dalam kesempatan yang berdekatan, Eni juga melepas 10% hak partisipasi di 4 WK di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur ke PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC). Keempat WK itu a.l. Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.
Perjanjian jual beli tersebut ditandatangani oleh PHE dan Eni pada Oktober 2026. Adapun, WK North Ganal dan Rapak masuk ke proyek Kutei North Hub yang memiliki rencana pengembangan atau plan of development (PoD) sekitar US$17,4 miliar atau sekitar Rp311,61 triliun.
“Akuisisi ini merupakan bagian dari strategi PHE untuk terus memperkuat portofolio hulu migas melalui investasi pada aset yang memiliki fundamental kuat, potensi sumber daya yang besar, serta memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan negara,” kata Direktur Utama PHE Sunaryanto melalui siaran pers, Senin (12/10/2026).
Sunaryanto menyatakan akuisisi hak partisipasi tersebut bakal mempertebal aset PHE di Kalimantan Timur, termasuk membuka peluang sinergi dengan aset Pertamina di Kalimantan Timur yakni PT Badak NGL.
Sunaryanto menambahkan, akuisisi tersebut membuka peluang bagi Pertamina untuk berpartisipasi lebih aktif dalam program pengembangan lapangan dan eksplorasi di kawasan tersebut.
Dia menyatakan bahwa sumber daya yang masih dapat dikembangkan diharapkan menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi PHE dalam jangka menengah dan panjang.
Adapun, Eni sebelumnya memegang 88,26% hak partisipasi di North Ganal, sebesar 82% di Rapak, serta sebesar 95% di East Sepinggan.
Sekadar informasi, Eni turut melepas 10% hak partisipasi di 4 WK lainnya, yakni Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.
Transaksi tersebut mencakup aset produksi hingga pengembangan dan eksplorasi yang dilepas ke Medco.
Eni sebelumnya memegang 88,3% hak partisipasi di WK Muara Bakau, sebesar 82% di WK Ganal, sebesar 70% di WK West Ganal, dan menjadi pemegak hak partisipasi penuh di WK East Ganal.
"Langkah ini juga memperkuat basis produksi jangka panjang kami dengan aset yang telah berproduksi dan proyek pengembangan gas berskala besar, sekaligus membuka potensi eksplorasi di Cekungan Kutai yang sangat prospektif, berkat keberhasilan eksplorasi terkini maupun berbagai prospek yang menjanjikan di masa depan," kata CEO MedcoEnergi Ronald Gunawan, melalui siaran pers, Senin (12/10/2026).
Proyek Kutei North Hub mencakup pengembangan Lapangan Geng North di WK North Ganal dan Lapangan Gehem di WK Rapak.
PoD yang disetujui disebut bakal memberikan investasi sekitar US$17,4miliar. Perinciannya, biaya investasi, di luar sunk cost, senilai US$11,84miliar, biaya operasi termasuk biaya ASR, PPN, dan PBB sejumlah US$5,64 miliar.
Adapun, untuk total sunk cost WK North Ganal dan WK Rapak ditetapkan seharga US$859 juta. Potensi pendapatan secara keseluruhan atau gross revenue diperkirakan mencapai sekitar US$39,45 miliar atau setara dengan Rp631 triliun.
Proyek tersebut mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700—2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
(azr/wdh)































