Harga emas terpangkas usai kenaikan dua hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terangkat 2,02%
Jadi, memang ada sedikit momentum bagi investor untuk melakukan aksi jual. Sebab, ada potensi cuan yang bisa diraih.
Selain itu, investor sepertinya sedang dalam mode wait and see. Satu yang ditunggu adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September pada besok malam waktu Indonesia.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi di Negeri Paman Sam akan sebesar 0,6% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diramal di 3,7% Jika terwujud, maka lajunya akan lebih cepat ketimbang Agustus yang sebesar 0,3% mtm dan 3,4% yoy.
Apabila inflasi meninggi secara persisten, maka bank sentral Federal Reserve sulit untuk tidak menerapkan kebijakan moneter ketat. Kenaikan suku bunga acuan sepertinya memang tidak bisa dihindari.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
“Situasinya akan tetap menantang ketika tekanan inflasi membuat The Fed terus mempertimbangkan kenaikan suku bunga,” ujar Manav Modi, Analis Komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.
(aji)




























