Logo Bloomberg Technoz

Konsensus pasar memperkirakan inflasi di Negeri Paman Sam akan sebesar 0,6% secara bulanan (month-to-month/mtm). Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diramal di 3,7%

Jika terwujud, maka lajunya akan lebih cepat ketimbang Agustus yang sebesar 0,3% mtm dan 3,4% yoy.

Apabila inflasi meninggi secara persisten, maka bank sentral Federal Reserve sulit untuk tidak menerapkan kebijakan moneter ketat. Kenaikan suku bunga acuan sepertinya memang tidak bisa dihindari.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

“Situasinya akan tetap menantang ketika tekanan inflasi membuat The Fed terus mempertimbangkan kenaikan suku bunga,” ujar Manav Modi, Analis Komoditas di Motilal Oswal Financial Services Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Harga Emas di Pasar Spot (Sumber: Bloomberg)

Analisis Teknikal

Lalu bagaimana prediksi harga emas untuk hari ini, Selasa (13/10/2026)? Apakah bisa bangkit atau malah kian terhimpit?

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 43. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Sementara indikator Stochastic RSI 14 sudah menyentuh 86. Menghuni area beli (long) yang kuat, bahkan tergolong jenuh (overbought).

Untuk perdagangan hari ini, harga emas masih berisiko turun lagi. Target koreksi ada di level US$ 4.161-4.159/troy ons.

Namun apabila harga emas mampu naik, maka US$ 4.192/troy ons rasanya akan menjadi pivot point. Dari situ, ada peluang untuk merangsek ke US$ 4.200-4.206/troy ons.

Target paling optimistis adalah US$ 4.213/troy ons.

(aji)

No more pages