Harga Minyak Bertahan Tinggi Akibat Panasnya Konflik Timur Tengah
News
13 October 2026 06:50

Kanoko Matsuyama - Bloomberg News
Bloomberg, Harga minyak bertahan di zona penguatan di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah yang mengancam menghambat pemulihan pasokan dari kawasan tersebut. Pasar juga meragukan klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai adanya “gencatan senjata energi” antara Rusia dan Ukraina.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$93 per barel setelah naik 2,1% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup di kisaran US$107 per barel pada Senin (12/10). Rentetan serangan drone dan rudal oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap bandara utama Arab Saudi semakin meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk mengintensifkan upayanya dalam konflik di Yaman.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan negaranya akan terus menyerang Rusia selama Moskow masih menargetkan infrastruktur energi Ukraina. Trump mengatakan telah terjadi pelanggaran terhadap “gencatan senjata energi” yang diusulkannya. Namun, ia mendesak Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bertemu dan mengakhiri perang.
Harga Brent masih naik lebih dari 70% sepanjang tahun ini di tengah gejolak pasar energi akibat perang AS melawan Iran. Serangan terhadap Arab Saudi terjadi tidak lama setelah pasukan koalisi pimpinan Riyadh di Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Sementara itu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting, semakin meningkat. Situasi ini membuat semakin banyak kapal mengurungkan rencana berlabuh di sebuah pelabuhan di Uni Emirat Arab yang selama ini berperan penting dalam membantu pemulihan ekspor minyak dari Teluk Persia hingga mendekati level sebelum perang.





























