Terlebih lagi, saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu amat menekan IHSG, yaitu saham PT Petrosea Tbk (PTRO) dan saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang terjungkal mencapai titik Auto Reject Bawah (ARB) pada penutupan perdagangan hari ini.
Adapun saham PTRO ditutup melemah 14,94% di posisi terendah menyentuh Rp4.040/saham, seiringan dengan saham CUAN yang juga ditutup ambles 14,93% di posisi Rp655/saham.
Emiten Prajogo Pangestu lain, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) juga drop 11,48% hingga ditutup di posisi Rp2.390/saham. Susul saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang jatuh 10,14% di posisi Rp1.505/saham.
Senada, emiten saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga terjerumus di zona merah dengan pelemahan mencapai 9,91% ditutup di posisi Rp500/saham. Senasib dengan saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang juga ambles 4,27% di posisi Rp1.345/saham.
Pasar mengaitkan kejatuhan IHSG hari ini dengan rumor sanksi dan/atau denda dari penyedia Indeks MSCI atau regulator terkait pasar saham RI terhadap Grup Prajogo Pangestu, menyoal dugaan praktik konsentrasi kepemilikan atau manipulasi harga saham.
Lebih jauh, rumor tersebut terkait tingginya konsentrasi pemegang saham perusahaan sebelum MSCI memberlakukan pembekuan (freeze) terhadap rebalancing indeks untuk konstituen saham dari Indonesia.
Kebetulan, dalam rumor sanksi/denda tersebut muncul nama emiten PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Selain BREN ada tiga nama lain yang dikaitkan dengan isu serupa, yaitu emiten saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO).
Rumor tersebut belum bisa terkonfirmasi.
Namun, menurut Chief Economist and Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto situasi saat ini merupakan cerminan akan kekhawatiran soal konsentrasi Indeks dan risiko likuiditas di saham-saham tertentu. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi di sejumlah perusahaan yang terkait dengan konglomerasi dapat memperbesar pergerakan harga ketika terjadi perubahan posisi investor.
“Kami melihat koreksi ini sebagai kombinasi dari konsentrasi Indeks, sensitivitas terhadap likuiditas, dan melemahnya selera risiko, bukan sebagai indikasi yang jelas atas memburuknya fundamental perusahaan,” papar Rully.
(fad)





























