“Jelas bahwa inflasi dan prospeknya tidak serendah risiko seperti tahun lalu,” kata Gubernur RBI Sanjay Malhotra pekan lalu setelah kenaikan suku bunga tersebut.
RBI memperkirakan inflasi rata-rata mencapai 6% dalam tiga bulan hingga Desember dan menaikkan proyeksi inflasi setahun penuh menjadi 5,2%. Perkiraan tersebut memperkuat pesan Malhotra yang lebih hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat.
Kenaikan inflasi pada September terutama didorong oleh harga pangan, yang meningkat menjadi 7,74% dari 5,97% pada Agustus. Komponen pangan mencakup lebih dari sepertiga keranjang penghitungan inflasi ritel. Curah hujan yang kurang dari normal diperkirakan akan menambah tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang.
Harga minyak global yang tinggi juga masih menjadi kekhawatiran. Pemerintah sebagian besar melindungi konsumen dari kenaikan harga bahan bakar di SPBU, dengan hanya menaikkan harga bahan bakar ritel secara terbatas pada Mei meskipun harga minyak mentah kembali menembus US$100 per barel.
Meski demikian, dunia usaha tetap merasakan tekanan. Kenaikan biaya pangan dan energi meningkatkan pengeluaran serta menggerus margin keuntungan. Sejauh ini, produsen menyerap sebagian besar kenaikan biaya tersebut alih-alih meneruskannya kepada konsumen.
“Guncangan harga pangan yang meluas cenderung bertahan lebih lama dan berisiko lebih besar memengaruhi ekspektasi inflasi rumah tangga dibandingkan kenaikan harga sayuran yang bersifat sementara,” kata Kunal Kundu, ekonom Societe Generale, dalam sebuah catatan.
(bbn)






























