Menurut dia, penyelenggaraan MotoGP mampu meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke Mandalika dan daerah sekitarnya. Kondisi ini turut mendorong permintaan terhadap layanan akomodasi, transportasi, serta produk dan jasa yang ditawarkan pelaku usaha lokal.
"Efek pengganda atau multiplier effect yang dihasilkan menjangkau berbagai sektor, mulai dari tingkat okupansi hotel yang mencapai 100% di kawasan Mandalika dan 90% di Lombok Tengah serta Kota Mataram, peningkatan jumlah penumpang transportasi udara, hingga kenaikan omzet UMKM," ujar Widiyanti.
Dampak ekonomi MotoGP Mandalika juga terlihat dalam penyelenggaraan tahun sebelumnya. Berdasarkan kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, dampak ekonomi ajang tersebut secara nasional diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Capaian jumlah pengunjung tahun ini semakin memperkuat potensi MotoGP Mandalika sebagai penggerak pariwisata dan ekonomi daerah. Selain menarik penonton untuk menyaksikan balapan, ajang ini juga membuka peluang bagi wisatawan untuk mengunjungi destinasi lain di NTB.
Widiyanti mengatakan, wisata olahraga atau sport tourism telah berkembang menjadi industri global yang menghubungkan olahraga, pariwisata, media, dan ekonomi kreatif. Berbagai kompetisi internasional dapat menarik wisatawan dari berbagai negara untuk menyaksikan pertandingan sekaligus menikmati destinasi wisata.
"Olahraga merupakan salah satu tema pariwisata yang sangat potensial untuk terus dikembangkan. Secara global, olahraga telah terbukti menjadi magnet pariwisata yang sangat efektif. Karena itu, kita perlu terus bersinergi agar sport tourism di Indonesia dapat tumbuh semakin baik," kata Widiyanti
(dec)






























