BPS mencatat bahwa subsektor transportasi udara dan kereta api mengalami lonjakan penumpang masing-masing melebihi 8,5% dan 11,2% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Peningkatan kapasitas angkut serta bertambahnya frekuensi libur panjang (long weekend) sepanjang paruh pertama tahun ini dinilai menjadi pemicu utama masyarakat untuk mengalokasikan pendapatan mereka pada aktivitas perjalanan jangka pendek maupun jarak jauh.
Dampak domino dari tingginya mobilitas tersebut langsung dirasakan oleh industri akomodasi dan penyediaan makanan-minuman. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di berbagai destinasi wisata unggulan—seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo—mencapai rata-rata di atas 64,5%, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 58,2%.
Pada saat yang sama, omzet bisnis kuliner dan restoran mencatatkan kenaikan agregat sebesar 6,8% (yoy), didorong oleh pergeseran preferensi masyarakat yang kini lebih memprioritaskan konsumsi berbasis pengalaman (experience-based consumption) dibanding barang tahan lama (durable goods).
Secara agregat, pergeseran pola konsumsi ini turut menopang daya beli masyarakat di tengah dinamika inflasi nasional yang relatif terjaga di level 2,4% (yoy) per pertengahan 2026.
Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang berkontribusi lebih dari 53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia terbukti tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi, dengan membukukan pertumbuhan sebesar 4,98% (yoy) pada Semester I-2026.
Pertumbuhan konsumsi di luar sektor makanan pokok ini mencerminkan optimisme konsumen yang tetap stabil di zona ekspansif.
BPS memproyeksikan tren konsumsi gaya hidup dan mobilitas tinggi ini akan berlanjut hingga akhir tahun 2026. Penguatan ini diperkirakan bakal mendapat dorongan tambahan dari agenda kegiatan nasional, momentum libur akhir tahun, serta efektivitas penyaluran stimulus belanja pemerintah.
Catatan BPS menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia secara keseluruhan masih terjaga dengan kuat. Hal itu terbukti dari konsumsi rumah tangga selama Semester I-2026 yang masih konsisten tumbuh di atas level 5%.
Selain ditopang konsumsi, BPS juga mencatat bahwa pemerataan pertumbuhan ekonomi daerah berjalan baik. Sebanyak 99 kabupaten/kota di Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 6% sepanjang Semester I-2026.
Kawasan berbasis industri pengolahan (manufaktur) seperti Kendal dan Batang bahkan mencatatkan pertumbuhan di atas 8%. Di samping itu, wilayah berbasis non-tambang seperti Kabupaten Sidrap juga tumbuh mendekati 7% berkat produktivitas pertanian, pengolahan padi, dan masuknya investasi industri porang.
Pemerintah optimistis model pertumbuhan berbasis produktivitas dan pengelolaan daerah ini dapat direplikasi. Langkah koordinasi lintas kementerian dan perbaikan pencatatan data BPS terus diperkuat untuk menjaga momentum pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
(smr/ell)




























