Turun tajam IHSG terjadi di tengah kecemasan akan dampak meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap ekonomi global dan kenaikan harga energi hingga inflasi. Kegelisahan saat ini bahkan bergeser ke potensi kenaikan suku bunga acuan (lagi) oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve/The Fed.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali diserang Houthi pada Minggu (11/10/2026) setempat, sehari setelah serangan menewaskan 12 orang. Pada hari yang sama, sebuah drone menyerang kapal tanker di dekat area labuh Sohar, lepas pantai Oman dan di luar Selat Hormuz, menurut UK Maritime Trade Operations.
Terlebih lagi, laporan terbaru, Iran mengancam akan membidik aset-aset digital vital milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat, termasuk jaringan kabel, pusat data (data center), dan pusat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang harganya melampaui US$2 triliun (senilai Rp35.751 triliun) jika perang kembali pecah.
“Kami belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar target. Namun, jika perang pecah, banyak kabel, pusat data, dan pusat AI yang memiliki nilai finansial sangat besar akan berada dalam jangkauan tembakan kami,” tegas Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, dalam sebuah interviu dengan Press TV.
“Saat ini, jika konflik terjadi, kami tentu akan menghadapi musuh dengan rencana yang lebih luas,” kata Rezaei.
Bank Sentral paling berpengaruh di dunia itu tidak menampik suku bunga acuan harus dikerek, banyak dari pejabat Federal Reserve (The Fed) mendukung keputusan kenaikan bunga acuan diperlukan untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang semakin kuat. Hal itu tercantum dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September yang dirilis di Washington, melansir Bloomberg News.
(fad)




























