Saham–saham energi, infrastruktur, dan barang baku big caps menjadi pemberat IHSG pada perdagangan siang hari ini, Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), hingga PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) masing–masing melemah 3,57%, 3,33%, dan juga 2,76%.
Berikut adalah sejumlah saham big caps yang turun signifikan hingga siang ini:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 9,16 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengurangi 9,1 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 8,98 poin
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengurangi 6,12 poin
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mengurangi 5,57 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 4,94 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 4,59 poin
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengurangi 4,31 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 3,81 poin
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mengurangi 3,86 poin
Pelemahan IHSG tertekan sentimen global maupun domestik. Dari sisi eksternal tensi geopolitik di Timur Tengah meninggi seiring eskalasi serangan kelompok Houthi. Kelompok ini menebar ancaman di jalur pelayaran strategis Bab el-Mandeb, yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dan perdagangan global.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali diserang oleh kelompok Houthi akhir pekan lalu, sehari setelah serangan yang menewaskan 12 orang. Pada hari yang sama, sebuah drone menyerang kapal tanker di dekat area labuh Sohar, lepas pantai Oman dan di luar Selat Hormuz, menurut UK Maritime Trade Operations.
Terlebih lagi, Iran mengancam akan membidik aset-aset digital vital milik Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Barat, termasuk jaringan kabel, pusat data (data center), dan pusat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang bernilai melampaui US$2 triliun (senilai Rp35.751 triliun) jika perang kembali pecah.
“Kami belum memasukkan aset-aset tersebut ke dalam daftar target. Namun, jika perang pecah, banyak kabel, pusat data, dan pusat AI yang memiliki nilai finansial sangat besar akan berada dalam jangkauan tembakan kami,” tegas Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, dalam sebuah wawancara dengan Press TV.
“Saat ini, jika konflik terjadi, kami tentu akan menghadapi musuh dengan rencana yang lebih luas,” kata Rezaei.
Dari dalam negeri, antisipasi dan sikap wait and see pasar terhadap pengumuman MSCI seputar ancaman degradasi ke Frontier Market hingga potensi pembekuan (freeze) yang terus berlanjut amat menghantui pasar saham Indonesia.
“Kami memperkirakan MSCI akan memperpanjang pembekuan pada November, sembari menunggu bukti bahwa reformasi yang telah dilakukan benar-benar berjalan efektif,” mengutip riset Mirae Asset Sekuritas.
Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, lanjut riset itu, maka perlakuan khusus bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade).
“Kami menilai semester II-2027 sebagai periode yang lebih realistis, mengingat kecenderungan MSCI untuk mengambil keputusan struktural dalam market classification review pada Juni,” sebut riset Mirae.
(fad/aji)























