Beijing sebelumnya telah menjatuhkan sanksi terhadap pejabat dan politikus asing yang menjalin hubungan dengan warga Taiwan yang dianggapnya sebagai kelompok separatis. Namun, ini merupakan kali pertama China menjatuhkan sanksi terhadap pejabat dari negara-negara yang menjadi sekutu diplomatik Taiwan.
Pada Maret, China menjatuhkan sanksi terhadap politikus Jepang Keiji Furuya karena “berulang kali mengunjungi Taiwan dan berkolusi dengan kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’”. Kemudian, pada Juni, China memberlakukan larangan perjalanan pertamanya terhadap anggota parlemen Selandia Baru setelah mereka mengunjungi Taiwan.
Langkah terbaru Beijing tersebut dilakukan ketika Taiwan berupaya mempererat hubungan dengan sejumlah kecil negara yang masih menjadi sekutu diplomatiknya, termasuk Paraguay dan Belize, melalui perluasan kerja sama ekonomi dan pertukaran tingkat tinggi.
Presiden Paraguay Santiago Peña mengunjungi Taipei pada Mei. Dalam kunjungan tersebut, kedua pihak menandatangani sejumlah kesepakatan di bidang keamanan siber, kerja sama peradilan, dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung juga mengunjungi Belize pada akhir September dengan memimpin delegasi bisnis untuk menjajaki peluang investasi dan menandatangani kesepakatan mengenai pelatihan diplomatik.
Pertemuan dan kerja sama tersebut menunjukkan upaya Taipei untuk melawan kampanye Beijing yang bertujuan mengisolasi Taiwan di tingkat internasional. Taiwan saat ini hanya memiliki 12 sekutu diplomatik resmi, tujuh di antaranya berada di Amerika Latin dan Karibia. Negara-negara mitra tersebut berperan penting dalam mengadvokasi partisipasi Taiwan di berbagai organisasi internasional.
China menentang pertukaran resmi antara Taipei dan negara-negara yang menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing. China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, klaim yang ditolak pemerintah di Taipei. Taiwan menegaskan bahwa pulau tersebut pada kenyataannya telah menjadi negara merdeka.
(bbn)






























