Logo Bloomberg Technoz

Meski ekspektasi kenaikan suku bunga acuan relatif mereda, tetapi kenaikan harga minyak mentah masih menghidupkan kekhawatiran soal inflasi global, khususnya di AS.  Pasar menantikan arah kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan para pejabat bank sentral pekan ini. 

Kondisi itu menunjukkan tekanan di pasar surat utang belum mereda, terutama di instrumen bertenor panjang yang cenderung sensitif terhadap premi risiko. 

Dari Asia, pergerakan yield di pasar obligasi relatif stabil. Obligasi Jepang tenor 10 tahun dibanderol 3%, Korea Selatan 4,39%, dan China 1,66%. Sementara, yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS stagnan dan bertahan di 6,19% untuk tenor 10 tahun, dan untuk tenor 5 tahun berada di 5,64%. 

Adapun Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun kembali melandai di level 91,33. Posisi ini turun dari awal Oktober yang sempat menyentuh 95,84. 

Di dalam negeri, investor juga akan menimbang kebutuhan pembiayaan APBN, perkembangan penerimaan negara, dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Defisit APBN yang mencapai Rp319 triliun atau 1,24% dari PDB hingga akhir September menjadi salah satu indikator yang akan jadi perhatian investor, terutama dalam menilai kebutuhan penerbitan utang pada sisa tahun anggaran.

Angka tersebut memang belum menunjukkan tekanan fiskal yang berlebihan, tetapi pasar akan mencermati apakah realisasi penerimaan dan belanja tetap sejalan dengan target.

Jika kebutuhan pembiayaan meningkat ketika biaya pendanaan global masih tinggi, maka pemerintah dapat menghadapi tekanan untuk menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dalam lelang surat utang berikutnya. Hal ini akan membuat beban biaya bunga utang kian meninggi. 

Sebagai catatan, pembayaran beban bunga utang tiap tahun terkerek naik. Melansir data Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pembayaran bunga utang pada 2021 sebesar Rp343,5 triliun. Nilainya kemudian naik jadi Rp386,3 triliun pada 2022, Rp439,9 triliun pada 2023, dan Rp488,4 triliun pada 2024. 

Pada 2025, pembayaran bunga utang mencapai Rp552,1 triliun. Sementara dalam APBN 2026, pemerintah telah membayar bunga utang senilai Rp394,2 triliun per 31 Agustus, dengan alokasi target hingga akhir tahun berada di Rp599,4 triliun. Angka ini naik 8,6% dari outlook tahun sebelumnya. 

Dengan begitu, dalam waktu lima tahun, pembayaran bunga utang terkerek sekitar Rp255,9 triliun, atau naik 74,5% dibandingkan posisi 2021. 

(dsp/aji)

No more pages