Logo Bloomberg Technoz

Harga emas dunia melanjutkan tren positif yang terjadi minggu lalu. Sepanjang pekan lalu, harga aset ini terangkat 1,2%. 

Mengutip Bloomberg News, terkereknya harga emas disebabkan oleh aksi borong yang masif. Sepanjang September, arus modal masuk di pasar Exchange Traded Funds (ETF) emas mencapai yang tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Faktor lain yang juga menopang kenaikan harga emas adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Bloomberg News memberitakan, Trump mengungkapkan bahwa Rusia sudah sepakat untuk melepas pasokan minyak diesel (solar) ke pasar energi dunia. 

Perkembangan ini melegakan karena dapat mengatasi krisis solar global. Jika harga tekanan harga solar bisa mereda, maka ancaman inflasi tinggi juga akan teredam.

Investor pun sepertinya makin yakin bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat bulan ini. Mengutip CME FedWatch, peluangnya mencapai 82,3%.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.

Pekan ini, pasar akan memantau rilis data inflasi di Negeri Paman Sam. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperkirakan laju inflasi AS akan terakselerasi menjadi 0,6% secara bulanan untuk periode September.

“Namun kenaikan inflasi lebih dari faktor lokal, bukan tekanan harga yang meluas. Ini akan memberi ruang bagi The Fed untuk tetap sabar,” kata Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics.

(aji)

No more pages