Faktor lain yang juga menopang kenaikan harga emas adalah penyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Bloomberg News memberitakan, Trump mengungkapkan bahwa Rusia sudah sepakat untuk melepas pasokan minyak diesel (solar) ke pasar energi dunia.
Perkembangan ini melegakan karena dapat mengatasi krisis solar global. Jika harga tekanan harga solar bisa mereda, maka ancaman inflasi tinggi juga akan teredam.
Investor pun sepertinya makin yakin bahwa bank sentral AS Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat bulan ini. Mengutip CME FedWatch, peluangnya mencapai 82,3%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga naik.
Analisis Teknikal
Lalu bagaimana prediksi harga emas untuk pekan ini? Apakah bisa naik lagi atau malah terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih tersangkut di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 44. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sementara indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 33. Menghuni area jual (short) yang kuat, bahkan hampir jenuh (oversold).
Untuk perdagangan minggu ini, harga emas masih berpotensi naik. Apalagi pivot point US$ 4.156/troy ons sudah tertembus.
Target resisten terdekat ada di US$ 4.239/troy ons yang menjadi Moving Average (MA) 5. Resisten lanjutan adalah MA-10 di US$ 4.341/troy ons.
Target paling optimistis ada di US$ 4.407/troy ons.
Namun apabila harga emas justru turun, maka US$ 4,130/troy ons bisa menjadi support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga ke level US$ 4.104-3.982/troy ons.
Target paling pesimistis adalah US$ 3.962/troy ons.
(aji)

























