Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, keberhasilan mempertahankan posisi teratas selama empat tahun berturut-turut merupakan pengakuan terhadap konsistensi perseroan dalam membangun bisnis berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mempertahankan posisi sebagai merek paling bernilai di Indonesia selama empat tahun berturut-turut merupakan pencapaian yang sangat berarti bagi BRI. Bagi kami, kekuatan sebuah merek terutama dibangun melalui kepercayaan nasabah, kualitas layanan, serta kemampuan perusahaan dalam memberikan nilai tambah secara konsisten. Pengakuan ini menjadi motivasi bagi BRI untuk terus memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas kontribusi bagi perekonomian nasional,” ujar Dhanny.
Menurut BRI, nilai merek tidak hanya berkaitan dengan popularitas nama perusahaan, tetapi juga mencerminkan persepsi masyarakat terhadap kualitas layanan dan kemampuan perseroan mempertahankan hubungan dengan nasabah. Karena itu, penguatan fundamental bisnis dan peningkatan kualitas layanan menjadi bagian dari upaya menjaga reputasi dalam jangka panjang.
BRI Perkuat Nilai Merek Lewat Strategi Keberlanjutan
Selain menempati posisi pertama dalam kategori merek paling bernilai, BRI juga mencatatkan pencapaian pada aspek keberlanjutan. Brand Finance menempatkan perseroan sebagai merek dengan Sustainability Perceptions Value (SPV) tertinggi di Indonesia, dengan nilai mencapai USD328 juta.
SPV menggambarkan nilai yang berkaitan dengan persepsi publik terhadap komitmen keberlanjutan suatu perusahaan. Indikator ini menunjukkan bahwa pandangan masyarakat mengenai tanggung jawab lingkungan dan sosial turut menjadi salah satu komponen dalam pembentukan nilai merek.
Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa strategi keberlanjutan semakin relevan dalam membangun reputasi perusahaan. Bagi sektor perbankan, aspek ini berkaitan dengan cara perusahaan menjalankan bisnis, menyalurkan pembiayaan, serta menciptakan dampak ekonomi dan sosial melalui layanan keuangan.
BRI menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar pelaksanaan kewajiban kepatuhan atau pelaporan. Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penguatan pembiayaan berkelanjutan, pemberdayaan UMKM, perluasan inklusi keuangan, serta penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam praktik bisnis, pembiayaan berkelanjutan menjadi salah satu instrumen untuk mendorong kegiatan ekonomi yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial. Sementara itu, pemberdayaan UMKM dan perluasan akses keuangan diarahkan untuk membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan layanan perbankan.
Melalui jaringan layanan yang tersebar luas, BRI memiliki ruang untuk menghubungkan masyarakat dengan berbagai produk dan layanan keuangan. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari peran perbankan dalam mendukung aktivitas usaha, meningkatkan akses pembiayaan, dan memperluas partisipasi masyarakat dalam sistem keuangan formal.
Dhanny menegaskan bahwa keberlanjutan perlu terintegrasi dengan strategi pertumbuhan perusahaan agar dapat menghasilkan manfaat dalam jangka panjang.
“Bagi BRI, keberlanjutan bukan sekadar pemenuhan aspek kepatuhan ataupun pelaporan ESG, melainkan bagian dari strategi untuk menciptakan nilai jangka panjang. Kami meyakini bahwa pertumbuhan bisnis yang berkualitas harus berjalan seiring dengan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Karena itu, penguatan inklusi keuangan, pemberdayaan UMKM, serta penerapan tata kelola yang baik akan terus menjadi prioritas BRI,” tegas Dhanny.
Pernyataan tersebut menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas pertumbuhan bisnis. Bagi perusahaan perbankan, penerapan tata kelola yang baik, pengelolaan risiko, dan perhatian terhadap dampak sosial menjadi elemen yang mendukung kepercayaan pemangku kepentingan.
Persaingan Merek Perbankan dan Tantangan ke Depan
Dominasi sektor perbankan dalam laporan Brand Finance Indonesia 100 2026 menunjukkan besarnya peran industri tersebut dalam perekonomian nasional. Dengan kontribusi 45% terhadap total nilai merek yang tercatat, sektor perbankan memiliki posisi penting dalam membentuk persepsi publik terhadap merek korporasi di Indonesia.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, perusahaan perbankan dituntut untuk mempertahankan kualitas layanan sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan nasabah. Pengembangan layanan digital, kemudahan transaksi, serta kemampuan menyediakan solusi keuangan yang relevan menjadi aspek yang turut memengaruhi pengalaman nasabah.
Bagi BRI, mempertahankan posisi sebagai merek paling bernilai selama empat tahun berturut-turut menjadi modal reputasi yang perlu dijaga melalui kinerja bisnis dan konsistensi pelayanan. Pengakuan tersebut juga membawa tantangan untuk memastikan bahwa nilai merek sejalan dengan manfaat yang dirasakan nasabah dan masyarakat.
Di sisi lain, pencapaian SPV tertinggi di Indonesia memperkuat posisi aspek keberlanjutan dalam strategi perusahaan. Ke depan, konsistensi pelaksanaan program pembiayaan berkelanjutan, pemberdayaan UMKM, inklusi keuangan, dan tata kelola akan menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan publik.
Dengan nilai merek USD6,9 miliar dan Sustainability Perceptions Value sebesar USD328 juta, BRI mencatatkan dua pencapaian dalam laporan Brand Finance Indonesia 100 2026. Kedua indikator tersebut menyoroti aspek berbeda, yakni nilai merek secara keseluruhan dan persepsi publik terhadap komitmen keberlanjutan.
Bagi perseroan, tantangan berikutnya adalah menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional. Konsistensi dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kualitas layanan, dan memperluas manfaat ekonomi akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan posisi merek BRI di tengah dinamika industri keuangan.
(tim)





























