Sementara, di hari yang sama, kebakaran hutan terjadi di jalur pendakian Gunung Bungkuk, Desa Bungkuk, Parang, Magetan, Jawa Timur. Kebakaran menghanguskan sekitar 3 hektare lahan.
Berton mengungkapkan pemadaman dilakukan menggunakan peralatan manual dan membuat sekat bakar untuk membatasi perambatan api. “Upaya ini membuahkan hasil, saat ini api telah berhasil dipadamkan,” kata Berton.
Tak hanya itu, kebakaran juga terjadi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang, Desa Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, pada Selasa (6/10/2026).
Berton mengungkapkan luas lahan terbakar mencapai 22,77 hektare. Dalam kaitan itu, BPBD Kabupaten Bangli bersama unsur terkait melakukan pemadaman hingga api padam pada Jumat (9/10/2026).
Di Sulawesi Barat, karhutla terjadi di Dusun Wonosari dan Dusun Rama, Desa Buana Sakti, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, pada Minggu (4/10/2026) sekitar pukul 10.20 WITA. Kendati begitu, kebakaran masih belum bisa dipadamkan hingga Jumat (9/10/2026).
Kebakaran diperkirakan terjadi pada lahan mencapai 20 hektare. Berton menyatakan asap masih menyelimuti lokasi kejadian dan meluas ke wilayah Desa Buana Sakti.
“Penyebab munculnya kebakaran masih belum diketahui dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut,” ungkap dia.
Karhutla juga terjadi di Gunung Sidoe, Desa Jono, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Kamis (8/10/2026), luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 5 hektare.
Berton menyatakan hingga Jumat (9/10/2026) api terpantau belum padam dan masih terdapat dua titik api dengan asap mengepul di balik gunung. Dia menyebut, jangkauan titik api diperkirakan mencapai 6–7 kilometer, sementara upaya pemadaman telah menjangkau sekitar 3 kilometer.
Kemudian, karhutla tercatat terjadi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah pada pada Rabu (7/10/2026) pukul 14.30 WIT. Karhutla diperkirakan terjadi pada lahan sekitar 6 hektare. Pemerintah Kabupaten Nabire bahkan menetapkan status tanggap darurat untuk periode 4–17 Oktober 2026.
“BPBD Kabupaten Nabire bersama unsur TNI, Polri, dan instansi terkait melakukan asesmen serta pemadaman. Hingga Jumat (9/10/2026), tim gabungan masih melakukan upaya pemadaman di lapangan,” ujar Berton.
Karhutla turut terjadi di Raja Ampat, Papua Barat Daya, yang berlangsung pada 4–7 Oktober 2026. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 123,2 hektare.
Kendati begitu, Berton memastikan api berhasil dipadamkan per Jumat (9/10/2026) dan tidak terdapat korban jiwa yang dilaporkan.
“BNPB mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, tidak membakar sampah tanpa pengawasan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran kepada petugas setempat,” tegas Berton.
TPA Ikut Terbakar
Tak hanya lahan dan hutan, kebakaran turut terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Takome, Sulamadaha, Ternate Barat, Ternate, Maluku Utara, pada Kamis (8/10/2026). Luas area terdampak kebakaran diperkirakan sekitar 11 hektare.
Berton mengungkapkan hingga Jumat (9/10/2026), api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya. Dia menyatakan angin kencang, asap yang bercampur gas metana, serta keterbatasan peralatan turut menyulitkan proses penanganan.
Bahkan, Kota Ternate telah menetapkan status tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan untuk periode 3–16 Oktober 2026. Selain itu, pemda setempat disebut membutuhkan dukungan pasokan bahan bakar untuk operasional kendaraan dalam menangani kebakaran TPA Takome.
“Asap dari sampah yang terbakar menyebar hingga ke permukiman warga di sekitar Kelurahan Sulamadaha dan dikhawatirkan mengganggu kesehatan masyarakat. Petugas juga berkoordinasi untuk mencegah api merambat ke kawasan perkebunan dan permukiman warga,” tegasnya.
(azr/wep)






























