“Termasuk stop loss dan penyesuaian ukuran posisi sesuai profil risiko,” saran Alrich.
Dari daftar Broker Summary turut terungkap, UBS Sekuritas Indonesia dengan kode broker AK, gencar melakukan aksi jual besar-besaran yang menekan performa saham RANS sepanjang 28 September–8 Oktober. UBS Sekuritas melepas RANS mencapai Rp3,79 miliar.
Transaksi broker yang juga membidani IPO RANS itu dilakukan pada rata-rata jual di harga Rp184 per saham.
Stockbit Sekuritas Digital (XL) turut melakukan aksi jual saham RANS dengan nilai yang menyentuh Rp3,77 miliar. Aksi 'buang barang' itu dilakukan di harga rata-rata Rp184 per saham.
Indo Premier Sekuritas (PD) juga serupa, melepas senilai Rp2,21 miliar saham RANS di harga jual Rp185 per saham.
Sebagai catatan, RANS menyodorkan harga IPO Rp170 per saham dengan 2,52 miliar saham baru atau sejumlah 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dengan harga tersebut, RANS berhasil menghimpun dana segar Rp429,25 miliar.
Ditinggal Investor
Jumlah pemegang saham RANS pun susut 83,27% sejak IPO. Berdasarkan Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek RANS periode September, jumlah pemegang saham berdasarkan Single Investor Identification (SID) tercatat tinggal 126.253 investor, turun 21.843 dibandingkan bulan sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan jumlah SID pada masa pencatatan saham RANS yang saat itu berhasil menyentuh 754.691 investor, terjadi penyusutan 83,27% atau 628.438 SID.
Sebelumnya, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menjelang melantainya RANS menilai valuasi relatif mahal saat penawaran umum perdana saham. Kala itu, valuasi RANS diperkirakan berada pada kisaran price–to–earnings ratio (PER) 30-38 kali. Menurut Liza, daya tarik RANS lebih bertumpu pada potensi pertumbuhan bisnis dibanding fundamental yang telah matang.
(fad/aji)
































